Sengatan Perang Dagang AS-China Gerus Ekonomi RI

IN
Oleh inilahcom
Jumat 13 Desember 2019
share
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Perang dagang antara AS dan China menyengat perekonomian sejumlah negara termasuk Indonesia. Tahun ini, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tak akan jauh-jauh dari 5%.

Anggota Komisi XI asal Partai Golkar, Muhidin M Said mengatakan, perekonomian Indonesia tergolong masih bagus. Capaian pertumbuhan nasional 2019 yang diperkirakan berada di kisaran 5,01%-5,05%, lumayanlah meski masih di bawah 2018 sebesar 5,17%. "Jelas ada peran besar dari perekonomian global. Khususnya perang dagang AS dan China, dampaknya ke mana-mana," papar Muhidin di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Kata Muhidin, perekonomian Indonesia lebih oke ketimbang negara tetangga di lingkup Asean. Tahun ini, Singapura terancam mengalami resesi. Negeri Singa ini, memangkas pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi di kisaran 0%-1%, sebelumnya 1,5%-2,5%.

Dan, pertumbuhan ekonomi Thailand sami mawon. Mengalami perlambatan 0,5% dari 2,8% di kuartal I-2019 menjadi 2,3% pada kuartal II-2019. Sedangkan kuartal II-2019, pertumbuhan ekonomi negeri Gajah Putih ini melambat 2,4% dari 4,7%.

Mungkin hanya Malaysia dan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya masih stabil. Pertumbuhan ekonomi Malaysia naik menjadi 4,9% di kuartal II- 2019 dari sebelumnya 4,5% (kuartal I-2019). Sementara Vietnam, pertumbuhan ekonominya 6,71% pada kuartal II-2019. Atau turun tipis dari 6,82% (kuartal I-2019). "Untuk Asia Tenggara, ADB menilai perekonomian Indonesia masih lebih baik ketimbang Singapura dan Thailand. Artinya apa, pengelolaan ekonomi dan fiskal kita, lebih oke dong," papar Muhidin.

Tahun depan, Muhidin optimis pertumbuhan ekonomi nasional bakal moncer. Didorong bertumbuhnya sektor UMKM, investasi, manufaktur dan ekonomi digital. 'Tahun depan, kita optimis pertumbuhan nasional bisa lebih melaju lagi. Ya bisa 5,2 persen-lah," ungkap anak buah Airlangga Hartarto ini.

Ekonom Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI), Telisa Felianti mengkhawatirkan trade war AS dengan China meluas. Alhasil, sejumlah lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhannya. Bahkan untuk Indonesia dipatok kurang dari 5%.

Semisal JPMorgan, lanjut Telisa, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya 4,9%. Sedangkan Moody,s mematok pertumbuhan RI pada 2020 hanya lebih kecil lagi, yakni 4,7%. "IMF dan World Bank juga merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global beberapa kali", kata Telisa dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Kendati demikian, Telisa mengakui, masih ada peluang bagi pertumbuhan ekonomi RI di 2020, bisa di atas 5%. "Optimalisasi sektor ekonomi digital, perkuat UMKM, peningkatan SDM dan rencana kebijakan Omnibus Law dan super deductive tax menjadi aspek penting memanfaatkan pembangunan yang sudah dilakukan," kata dia. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA