BPS: Ekspor Industri Pengolahan Tembus US$10,58 M

IN
Oleh inilahcom
Senin 16 Desember 2019
share
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto - (inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$10,58 miliar pada November 2019. Kinerja ekspor di sektor ini mencapai angka tertinggi dibandingkan sektor lain.

Di mana, ekspor minyak dan gas sebesar US$1,11 miliar, pertanian mencapai US$0,33 miliar, serta pertambangan dan lainnya sebesar US$1,99 miliar. "Total ekspor pada November 2019 adalah sebesar Rp14,01 miliar dolar AS, di mana seperti biasanya, ekspor sektor industri pengolahan berkontribusi paling besar, yakni 75,53 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto di Jakarta, Senin (16/12/2019).

Data BPS menyebutkan, angka ekspor ke tiga sektor yakni migas, industri pengolahan, dan pertambangan pada November 2019 mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni masing-masing turun 15,81%; 1,66%; dan 19,09%. "Hanya sektor pertanian yang ekspornya naik yakni naik 4,42 persen," ujar Suhariyanto.

Dengan demikian, ekspor sektor tambang berkontribusi 14,19% terhadap ekspor, migas berkontribusi 7,89% dan pertanian 2,39%. Menurut data BPS, beberapa golongan barang mengalami peningkatan ekspor pada November 2019, yakni Lemak dan Minyak Hewan naik 131,2%; kapal, perahu, dan struktur terapung naik 40,1%; pakaian dan aksesori (bukan rajutan) naik 23,8%; barang dari besi dan baja naik 21,8%; serta ampas atau sisa industri makanan naik 20,7%.

Kendati demikian, terjadi penurunan ekspor cukup dalam terhadap beberapa golongan barang pada periode tersebut, di antaranya ekspor logam mulia mengalami penurunan 105,2%; kendaraan dan bagiannya turun 122,4%; bahan bakar mineral turun 138,5%; besi dan baja turun 169,0%; serta bijih, terak, dan abu logam turun 239,6%.

Terjadi peningkatan ekspor ke beberapa negara tujuan, yakni ke India naik 44,9%, Bangladesh naik 36,7%, Korea Selatan 28,0%, Spanyol 26,2%, dan Belanda 23,6%.
Namun, ekspor ke lima negara lain mengalami penurunan yang dalam, yakni ke Singapura turun 76,6%, Malaysia turun 82,3%, Taiwan turun 103,0%, Jepang 129,6%, dan Tiongkok turun 348,0%. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA