Tangkal Kampanye Hitam Sawit, Bergabunglah ke RSPO

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 Desember 2019
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Upaya menangkal kampanye hitam terkit pengrusakan lingkungan dari kalangan NGO asing terhadap sawit asal Indonesia, sejatinya mudah. Bergabunglah ke Roundtable On Suistanable Palm Oil (RSPO).

Kata Direktur RSPO Tiur Rumongdang, RSPO merupakan salah satu tools guna mengukur sejauh mana prinsip keberlanjutan diterapkan industri sawit di tanah air. Di mana, prinsip keberlanjutan itu memberikan perlindungan terhadap lingkungan.

Menurut Tiur, melalui theory of Change RSPO, menjadi upaya bagaimana pelaku perkebunan tidak memiliki pengaruh buruk terhadap lingkungan. "Misalnya dalam konteks sosial, banyak masyarakat yang tidak mengetahui haknya, maka itu kita perlu melakukan perbaikan secara bersama dalam proses pembukaan lahan sehingga, masyarakat tidak kehilangan lahan," kata dia dalam FGD Sawit Berkelanjutan Bertema Ketahanan Pangan Indonesia: Sawit Berkelanjutan di Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Acara ini diselenggarakan Majalah InfoSAWIT, dihadiri Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo. Dia mengatakan, pengembangan perkebunan kelapa sawit perlu terus dilakukan perbaikan, apalagi merujuk UUD 45 pasal 33 ayat 4 telah mengamanatkan pengembangan ekonomi berbasis praktik berkelanjutan. "Jadi jangan salah pada UUD 1945 amandemen telah mengamatkan pengembangan ekonomi berwawasan berkelanjutan," katanya.

Peranan sektor sawit yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini semakin didukung kebijakan dan arahan pemerintah yang menargetkan produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebesar 40 juta ton pada 2020.

Selain itu, pemerintah juga memiliki target produktivitas yang disebut Visi 35:26 yaitu untuk dapat memproduksi buah sawit atau fresh fruit bunches (FFBs) sebanyak 35 ton per hektar dengan tingkat ekstraksi 26%. Pembangunan sektor sawit erat kaitannya dengan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi ekosistem hutan dan gambut di Indonesia.

"Dampak lingkungan tersebut tidak terkait dengan karakteristik tanaman sawit itu sendiri, namun lebih terkait ke proses pembangunan dan budidaya perkebunan sawit," katanya.

Sementara, Indra Budi Susetyo dari Tim Sawit Pusat Teknologi Agroindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan, saat ini, industri oleokimia dasar di Indonesia, memiliki kapasitas terpasang cukup besar. Sayangnya, industri oleokimia hilir masih terbatas pada beberapa produk, seperti fatty alcohol ethoxylate dan Betain. "Oleokimia hilir memiliki ratusan jenis produk," katanya.

Kata Indra, sejatinya sawit sangat strategis secara ekonomi, sebab itu perlu menjaga penyerapan produk sawit, perluasan peningkatan pasar, menjaga nilai tukar produk, lantas melakukan kontrol Supply. "meningkatkan nilai tambah dengan hilirisasi namun menjaga kecukupan kebutuhan dalam negeri, baik untuk pangan, energy, feed stock industry," katanya.

Suka atau tidak, sawit sukses menarik perhatian dari pemerintahan Joko Widodo dan Maruf Amin. Lantaran keunggulan yang dimiliki dan kontribusinya terhadap devisa negara. "Sebelumnya sawit belum jadi perhatian," kata Deputy Head of Corporate Sustainability Bumiatam Gunajaya Agro Group, Agam Fatchurrochman.

Terlebih harga sawit terus melonjak, bahkan hanya dalam waktu 2 bulan, kenaikannya mencapai US$150/ton. Sehingga harga minyak sawit dan soyabean oil sudah hampir tidak ada perbedaan. Kendati demikian, pola pengembangan perkebunan kelapa sawit tetap mengacu pada praktik budidaya berkelanjutan.

Misalnya, kata Agam, untuk mengajak masyarakat menjauhi cara membuka lahan dengan cara bakar, perusahaan telah melakukan perjanjian sekitar 2 km dari batas kebun, perusahaan bisa membantu msyarakat dalam kegiatan pembukaan lahan pangan tanpa bakar. "Itu salah satu cara kami dalam mengajak masyarakat dalam menjaga lingkungan," tandas dia. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA