Potret Perekonomian Terkini dan Proyeksi 2020

IN
Oleh inilahcom
Jumat 20 Desember 2019
share
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, melihat kinerja perekonomian Indonesia 2019 masih menunjukkan perkembangan positif.

Sampai dengan kuartal III-2019, ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5%, meskipun ekonomi dunia tumbuh melambat akibat dampak ketidakpastian global terkait perang dagang AS-Tiongkok dan gejolak geopolitik di berbagai wilayah, seperti Brexit, Hongkong, Semenanjung Korea dan Timur Tengah.

Perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,02% (yoy) pada kuartal III-2019, cenderung melemah jika dibandingkan pertumbuhan kuartal III-2018 sebesar 5,17% (yoy). Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara emerging market besar lainnya, capaian ekonomi Indonesia terbilang cukup memuaskan. Pada periode yang sama, ekonomi Tiongkok melambat dari 6,5% (yoy) menjadi 6% (yoy), dan ekonomi India merosot tajam dari 7% (yoy) menjadi 4,55% (yoy).

Ekonomi Indonesia pada kuartal III-2019 masih ditopang Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), sekitar 88% dari PDB. Konsumsi RT tumbuh stabil 5,01% (yoy), mengindikasikan daya beli terjaga.

Sementara itu, pertumbuhan Konsumsi pemerintah melemah menjadi 0,98% (yoy) dikarenakan sebagian besar realisasi belanja bantuan sosial telah di-front-load ke 1H19. Pertumbuhan PMTB melemah menjadi 4,21% (yoy) seiring melambatnya pertumbuhan penanaman modal.

Hal tersebut disebabkan aksi wait and see investor di tahun politik, serta meningkatnya ketidakpastian perang dagang yang menurunkan volume perdagangan dunia sehingga mengganggu iklim investasi.

Ekspor melemah menjadi 0,02% (yoy). Pelemahan ekspor terkompensasi oleh berbagai upaya pemerintah dalam menahan laju impor. Pertumbuhan impor mengalami kontraksi cukup dalam, atau turun 8,61% (yoy).

Diperiakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 masih mencapai 5%, didorong beberapa faktor musiman di 4Q19. Di antaranya adalah menguatnya Konsumsi RT akibat perayaan Natal dan Tahun Baru, dan meningkatnya realisasi Belanja Pemerintah pada akhir kuartal setiap tahunnya.

Sementara itu, harga-harga komoditas utama seperti, batubara, minyak kelapa sawit, minyak mentah, karet dan nikel masih pada tingkat moderat, sehingga daya dorong sektor komoditas terhadap pertumbuhan ekonomi relatif masih lemah.

Stabilitas Ekonomi
Stabilitas ekonomi nasional relatif terjaga ditunjukkan inflasi yang berhasil dijaga pada
rentang target Bank Indonesia (BI). Kurs rupiah juga relatif stabil pada rentang Rp14.100Rp14.200 per US$.

Inflasi November 2019, tercatat 3% (yoy), cenderung stabil dan berada pada rentang target inflasi tahun ini sebesar 3,51%. Capaian tersebut disebabkan oleh terkendalinya inflasi komponen bergejolak seiring terjaganya produktivitas dan persediaan stok bahan pangan. Pengendalian inflasi juga terkait dengan komitmen pemerintah dalam menjaga inflasi komponen harga diatur pemerintah, seperti bahan bakar dan energi.

Selain itu, peran aktif pemerintah dan BI dalam berkoordinasi dengan pemerintah daerah juga semakin membaik. Secara year-to-date (ytd) November 2019, inflasi dilaporkan sebesar 2,37%. Diperkirakan inflasi stabil di kisaran 3% di akhir tahun ini, atau di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 3,41%.

Nilai tukar rupiah (kurs) per US$ ditutup menguat 0,09% pada 17 Desember 2019 ke posisi Rp13.997, terapresiasi 2,7% (ytd). Penguatan didukung optimisme investor terkait kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga, serta perkembangan perundingan perang dagang AS-Tiongkok yang menunjukkan titik terang, sehingga
memberikan katalis positif bagi pasar keuangan domestik.

Sedangkan IHSG saat yang sama ditutup menguat sebesar 0,53% menjadi 6.244,4 (+0,8% ytd), dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 7 bps menjadi 7,35% (-68.4bps ytd).

Diperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.248 di akhir 2019. Penguatan nilai tukar rupiah ditunjang defisit neraca transaksi berjalan (CAD) terhadap PDB yang mengalami penurunan dan peningkatan aliran modal masuk bersih pada investasi langsung dan portofolio.

Kondisi ini menopang sektor eksternal Indonesia sehingga stabilitas nilai tukar rupiah terus terjaga. Sejumlah faktor tersebut, mampu mendukung momentum pertumbuhan Indonesia pada 2019.

Suku bunga acuan BI, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR), sampai dengan November 2019, tercatat turun 4 kali secara berturut-turut dari JuliOktober 2019 atau turun 100 bps menjadi 5%. Pelonggaran kebijakan moneter diambil sebagai langkah mendorong momentum pertumbuhan domestik di tengah perlambatan ekonomi dunia.

Terlihat masih ada ruang bagi BI untuk melanjutkan kebijakan moneter akomodatif dengan memangkas BI7DRRR sebesar 25 bps menjadi 4,75% di tahun depan. Terdapat 3 faktor yang menentukan pergerakan BI-7DRRR, yakni inflasi, pergerakan suku bunga acuan AS, dan CAD. Sampai November 2019, tingkat inflasi domestik masih stabil dan terjaga.

Hasil pertemuan FOMC-19 mengindikasikan the Fed akan menahan FFR di tahun depan setelah memotong FFR sebesar 75 bps menjadi 1,75% di tahun ini. Arah kebijakan the Fed yang dovish tersebut memberikan dampak positif bagi pasar keuangan global, terlihat dari aliran modal asing yang kembali masuk ke Indonesia.

Sampai dengan pertengahan Desember 2019, tercatat terjadi aliran modal masuk bersih sebesar Rp.42,7 triliun di pasar saham dan Rp174 triliun di pasar SBN. Terakhir, CAD menyusut dari 2,93% dari PDB di 2018 menjadi 2,7% dari PDB di sembilan bulan 2019. Seiring relatif membaiknya neraca perdagangan jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu. Dipekirakan CAD full-year (2019) sekitar 2,6% terhadap PDB.

Perkembangan Perbankan
Berbagai indikator perbankan masih cukup solid sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat cukup tinggi sebesar 23,3% pada September 2019, lebih tinggi dibandingkan akhir 2018 sebesar 23%. Kinerja laba bank-bank besar sepanjang 2019 juga masih cukup baik di tengah besarnya tantangan yang dihadapi saat ini.

Bank-bank besar dalam negeri pada sembilan bulan perama 2019, mencatatkan kinerja yang cukup baik. Empat bank besar (Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI) pada kuartal III-2019 mencatatkan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan kinerja kuartal II-2018 sebesar 3,9%(yoy).

Beberapa faktor yang menopang kinerja adalah ekspansi bisnis yang masih cukup baik, kualitas aset yang terjaga, stabilnya pertumbuhan pendapatan operasional, serta perbaikan efisiensi kegiatan operasional perbankan.

Tidak berlebihan apabila hal itu membuat kita optimis bahwa profitabilitas perbankan akan membaik pada 2020. Hal ini didorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta terjaganya berbagai indikator ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan kredit.

Selain itu, penurunan suku bunga acuan juga akan memperbesar selisih suku bunga kredit dan DPK, sehingga net interest margin (NIM) juga akan meningkat. Bank-bank harus lebih jeli melihat potensi sumber-sumber pertumbuhan kredit baru yang memiliki prospek yang baik, terutama sektor-sektor yang berorientasi domestik, seperti FMCG, layanan kesehatan dan sektor-sektor yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur.

Di sisi lain, bank juga harus menerapkan fungsi manajemen risiko yang baik untuk menjaga kualitas aset sehingga NPL tetap terjaga, serta terus meningkatkan rasio kecukupan modal untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global.

Outlook Ekonomi 2020
Kami perkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 akan tumbuh sebesar 5,14%, ditopang pertumbuhan konsumsi RT yang terjaga dan pertumbuhan PMTB yang membaik seiring dengan berakhirnya tahun politik dan telah dirumuskannya paket kebijakan terkait peningkatan daya saing dan iklim investasi domestik, seperti Undang-undang Omnibus Law.

Perang dagang ASTiongkok yang berdampak pada penurunan harga komoditas masih menjadi faktor risiko bagi ekonomi Indonesia pada 2020. Kami perkirakan, inflasi mencapai 3,54% akibat penyesuaian beberapa harga yang diatur pemerintah. Nilai

Nilai tukar rupiah akan sedikit terdepresiasi menjadi Rp14.296 per US$ di akhir 2020, seiring melebarnya CAD menjadi 2,88% dari PDB, akibat meningkatnya aktivitas kegiatan ekonomi pada sektor riil dan investasi.

Faktor positif yang dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020, adalah dampak transmisi kebijakan moneter, seperti penurunan suku bunga acuan dan kenaikan LTV, diharapkan mulai terlihat pada 2020. Selain itu, kebijakan fiskal yang semakin efektif melalui peningkatan kualitas belanja sehingga memiliki dampak multiplier effect yang tinggi juga dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. [ipe]

Penulis: Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro



# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA