Lingkungan Kotor, Depok tidak Pantas Raih Adipura

IN
Oleh inilahcom
Senin 23 Desember 2019
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kota Depok dinilai tidak pantas meraih piala Adipura yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Sebab, kota ini masih banyak sampah yang berserakan di jalur hijau,sungai, situ, bantaran kali dan pinggir-pinggir jalan.

Permasalahan sanitasi seperti banjir, wabah penyakit juga belum tertangani dengan baik. Pemerintah terkesan kurang peduli dengan kebersihan lingkungan.

Dari pengamatan dan kesimpulan menunjukkan, bahwa kesadaraan warga terhadap kebersihan lingkungan di "Kota Belimbing" tersebut masih rendah. Tidak adanya penyuluhan dan pengawasan dari aparatur pemerintah setempat juga salah satu sebab kotornya Kota Depok. Regulasi yang ada seperti tidak mempunyai arti apa-apa.

Pengamat lingkungan Universitas Indonesia (UI) Tarsoen Waryono sependapat dengan hal itu. Dia menilai kota ini belum pantas meraih penghargaan kebersihan karena kotanya masih lekat dengan kesan kotor.

"Menurut saya,Kota Depok belum layak dinobatkan sebagai kota yang bersih. Saya menyangsikan prestasi yang ditorehkan Kota Depok yang memperoleh piala Adipura 2017," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (23/12/2019).

Di sudut wilayah banyak berjajar tumpukan sampah terbungkus kantong plastik ukuran besar maupun ukuran kecil di pinggir jalan. Sebagai contoh, di Jalan Raya Bogor di sekitar Terminal Jatijajar-Cilodong menuju Cibinong banyak sampah terbungkus kantong pelastik berderet. Begitu juga di Jalan Juanda Raya dan terkadang di Jalan Margonda Raya. Sampah di jalan Juanda diduga sengaja dibuang warga. Perlu adanya pengawasan dan penindakan.

Tarsoen menyangkan masih banyaknya sampah berserakan di sudut-sudut Kota Depok, tidak hanya mengotori lingkungan.
"Keberadaan sampah yang tidak sesuai dengan tempatnya akan mengganggu keindahan kota serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekitar," katanya.

Begitu juga permasalahan sanitasi belum tercairkan hingga sekarang,masih menjadi pekerjaan rumah alias PR bagi pemerintah.

"Masih banyak persoalanakibat buruknya sistem sanitasi, seperti banjir, wabah penyakit, maupun pencemaran lingkungan. Sanitasi yang buruk ini belum diperhatikan pemerintah, "ucapnya.

Di Kota Depok, masalah akibat buruknya sanitasi seperti banjir seringkali terjadi, bahkan sampai terdapat wilayah langganan banjir bila musim penghujan tiba.

Selain itu, kebiasaan buruk warganya yang sering membuang sampah rumah tangga maupun sampah pasar ke parit maupun sungai-sungai semakin membuat tatanan sanitasi memburuk.

Tahun 2017 Kota Depok meraih piala Adipura untuk kategori Kota Metropolitan terbersih. "Pertanyaan saya kok bisa dapat? Saya bingung gitu loh, " tuturnya.

Tarsoen menilai Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok belum bekerja secara maksimal dalam hal mengatasi persoalan-persoalan kebersihan kota sebagai kota peraih Adipura.

Pria kelahiran Cilacap 12 Juni 1952 itu menjelaskan total jumlah sampah Kota Depok 2019 mencapai 1,2 juta ton per-harinya, hanya 20% diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).

"Sampah Kota Depok harusnya minimal 80% diangkut ke TPA per-harinya. Apabila DLHK terus membiarkan sampah tersebut menumpuk, jumlah sampah Kota Depok akan terus meningkat karenasampah diangkut dari rumah tangga keTPA dua atau tiga hari. Bahkan satu Minggu baru diangkut ke TPA, " jelasnya.

Menurut dia, lamanya sampah diangkut dari rumah tanggake TPA karena TPA sudah menunggu sampah hingga 40 meter.
Dan herannya, timbunan sampah tidak diapa-apakan sehingga setiap hari semakin menumpuk hingga menyebabkan TPA semakin sempit.

Sementara itu, Kepala bidang Kebersihan DLHK Kota Depok Iyai Gumilar mengakui sebagian masyarakat Kota Depok belum memiliki kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan. "Masyarakat masih banyak yang membuang sampah secara sembarangan," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya mulai Januari tahun depan akan lebih tegas terhadap pelaku pembuang sampah. "Selain operasi tangkap tangan, DLHK juga akan membawa pelaku ke sidang pengadilan untuk dihukum," tandasnya. [yha]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA