IHSG Tunggu January Effect

WM
Oleh Wahid Ma'ruf
Senin 06 Januari 2020
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Untuk pekan ini, IHSG berpotensi bergerak menguat seiring dengan kemungkinan adanya aksi January Effect setelah pelaku pasar mulai kembali beraktivitas dari libur Natal dan Tahun Baru.

Praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko menjelaskan berdasarkan data statistik dalam 10 tahun terakhir, yaitu periode 2010 hingga 2019, ternyata fenomena January Effect mampu mendorong IHSG untuk bergerak positif. Dalam periode tersebut, IHSG tercatat mampu menguat 8 kali (80%) dan hanya mengalami penurunan sebanyak 2 kali saja di periode bulan januari, yaitu januari 2011 sebesar -7,95% dan januari 2017 sebesar -0,05%.

Namun penguatan ini terbebani oleh dampak meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Secara teknikal, IHSG menunjukkan tanda-tanda akan kembali bergerak menguat, setelah berhasil keluar dari downtrend channelnya dan mampu bertahan diatas penembusan dari resisten tren turunnya.

"Indikator teknikal MACD masih bergerak naik diatas centreline menunjukan bahwa momentum penguatan IHSG masih terjaga dan berpotensi untuk berlanjut. Diprediksikan dalam pekan ini, IHSG bakal bergerak menguat di rentang kisaran area support 6.263 dan resisten 6.414," jelasnya seperti mengutip dari hasil risetnya, Minggu (5/1/2020).

Untuk pekan ini pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa akhir tahun 2019 pada hari selasa dan penjualan ritel pada hari jumat. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

Selasa 7 Januari 2020 : Rilis data perdagangan dan indeks sektor non-manufaktur PMI AS.
Rabu 8 Januari 2020 : Rilis data ijin bangunan Australia, Rilis data kepercayaan konsumen Jepang, Rilis data pekerjaan ADP AS.
Kamis 9 Januari 2020 : Rilis data perdagangan Australia, Rilis data inflasi China.
Jumat 10 Januari 2020 : Rilis data penjualan ritel Australia, Rilis data tenaga kerja dan tingkat pengangguran AS.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walaupun IHSG secara teknikal masih ada peluang untuk bergerak menguat lagi, seiring terbentuknya pola candle bullish pada perdagangan akhir pekan lalu.

Namun pelemahan bursa saham utama global pada akhir pekan lalu akibat naiknya ketegangan geopolitik Timur Tengah dapat menjadi ganjalan bagi pergerakan IHSG. "Apabila tensi ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan makin memanas, maka sentimen January Effect bisa saja tidak dialami oleh market."

Kabar dari Iran
Bursa Wall Street turun dari rekor tertingginya pada penutupan perdagangan akhir pekan, setelah serangan udara AS di Irak yang membunuh pemimpin militer tertinggi Iran meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, serta kontraksi yang lebih besar dari perkiraan di sektor manufaktur AS meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi AS.

Naiknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor keluar dari investasi pasar saham untuk sementara. Dow Jones ditutup turun 233,92 poin(-0,81%) menjadi 28.634,88, S&P 500 kehilangan 23 poin (-0,71%) menjadi 3.234,85 dan Nasdaq tergelincir 71,42 poin (-0,79%) menjadi 9.020,77.

Untuk sepekan terakhir, ketiga indeks saham utama AS ditutup bervariatif. Dalam sepekan, Dow Jones hanya turun -0,04% dan S&P 500 melemah -0,17%, sedangkan Nasdaq masih mencatat kenaikan +0,16%.

Pekan Singkat
Dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat +39,885 poin (+0,63%) ke level 6.323,466 pada akhir pekan kemaren. Investor asing membukukan pembelian bersih atau net foreign buy sebesar Rp 680 miliar di pasar reguler.

Dalam sepekan terakhir yang berlangsung pendek dengan hanya ada 3 hari perdagangan, IHSG melemah tipis -0,09%. Meskipun nilai transaksi menyusut karena pendeknya waktu perdagangan, namun investor asing justru masuk ke pasar dengan mencatatkan net buy di pasar reguler senilai Rp 203 miliar.

Memasuki pekan perdana perdagangan tahun 2020, IHSG terlihat sepi dan bergerak relatif datar dengan ditutup melemah tipis -0,09% secara mingguan. Pelemahan ini mengakhiri kenaikan secara mingguan dalam 4 pekan sebelumnya. Koreksi yang terjadi di sela-sela libur bursa pada tahun baru, diwarnai oleh berbagai sentimen.

Dari domestik, BI merilis data inflasi sepanjang tahun 2019 sebesar 2,72% (yoy), di bawah target pemerintah 3,5%, dinilai pasar cukup mengkhawatirkan karena di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia berada di level terendah.

Sementara dari global, sentimen cukup beragam diantaranya stimulus baru ekonomi China dan optimisme pelaku pasar akan semakin dekatnya kesepakatan dagang tahap pertama antara AS-China yang akan ditandatangai di White House pada tanggal 15 Januari 2020, serta meningkatnya tensi konflik ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan udara AS menewaskan petinggi militer Iran.


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA