Manajemen Lama Jiwasraya Terbiasa Rekayasa Lapkeu

IN
Oleh inilahcom
Rabu 08 Januari 2020
share
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Agus Firman Sampurna - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Hasil audit investigasi pendahuluan BPK terhadap PT Asuransi Jiwasraya (Persero/AJS) pada 2018, sudah menemukan banyak masalah. Indikasi kuat fraud alias penyelewengan.

Disampaikan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Agus Firman Sampurna, permasalahan keuangan yang dialami Jiwasraya sudah terjaid sejak lama. Pada 2006, Jiwasraya dinyatakan berhasil mengoleksi laba. Ternyata, laba tersebut semu, hasil dari rekayasa akutansi (windows dressing). "Padahal, Jiwasraya justru merugi kala itu," papar Agus di Kantor BPK, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Tak berhenti di situ, lanjut Agung. Pada 2017, Jiwasraya kembali memoles laporan keuangan (lakpeu) seoleh berhasil membukukan laba Rp360,3 miliar. Padahal, kala itu, Jiwasraya mendapat opini tidak wajar, akibat kekurangan pencadangan sebesar Rp7,7 triliun. "Jika sesuai ketentuan maka Jiwasraya seharusnya merugi," paparnya.

Setahun kemudian, lanjutnya, Jiwasraya mencatatkan kerugian (unaudited) sebesar Rp15,3 triliun. Sampai dengan September 2019, kerugian diperkirakan Rp13,7 triliun. Pada November 2019, Jiwasraya diperkirakan mengalami negatif equity sebesar Rp27,2 triliim.

Besar sekali? Ya, karena produk andalan Jiwasraya yakni JS Saving Plan ditawarkan dengan imbal hasil di atas deposito dan obligasi, sejak 2015. "Celakanya lagi, dana dari saving plan tersebut diinvestasikan ke instrumen saham dan reksadana yang berkualitas rendah, sehingga menghasilkan negatif spread," paparnya.

Terkait dugaan permainan dalam investasi dana nasabah Jiwasraya di pasar modal, kata dia, melibatkan direksi dan general manager.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA