BNPB Sebut Banjir Besar Di Jakarta Sejak 1600

IS
Oleh Ivan Setyadhi
Minggu 12 Januari 2020
share
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Agus Wibowo - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut salah satu faktor penyebab banjir di Jabodetabek adalah curah hujan yang tinggi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Agus Wibowo mengatakan, informasi curah hujan yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memicu terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya.

"Bahkan curah hujan kali ini merupakan tertinggi dibanding lebih dari 1,5 abad lalu," tegas Agus kepada wartawan, Minggu (12/1/2030).

Ia menambahkan, pintu air ini adalah pemegang kendali luapan air di Ibukota terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB).

"Sejarah Pintu Air Manggarai telah memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banjir besar di Jakarta sudah terjadi bahkan sejak tahun 1600-an. Pintu Air Manggarai adalah saksi bisu bencana banjir Jakarta, sejak dahulu kala," tambahnya.

Pintu ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, dalam hal ini Departement Waterstaat dari tahun 1920 sampai tahun 1922. Pintu air dibangun dua tahun setelah banjir besar yang melanda Batavia tahun 1918.

"Alhasil, dalam banjir-banjir besar berikutnya yang antara lain terjadi tahun 1930, 1942, 1976 hingga 1 Januari 2020, perannya tetap vital," tutupnya.

Agus pun merinci sejarah curah hujan dari 1,5 abad lalu.

* 1866: Curah hujan 185,1 mm/hari
* 1918: Curah hujan 125,2 mm/hari
* 1979: Curah hujan 198 mm/hari
* 1996: Curah hujan 216 mm/hari
* 2002: Curah hujan 168 mm/hari
* 2007: Curah hujan 340 mm/hari
* 2008: Curah hujan 250 mm/hari
* 2013: Curah hujan >100 mm/hari
* 2015: Curah hujan 277 mm/hari
* 2016: Curah hujan 100-150 mm/hari
* 2020: Curah hujan 377 mm/hari

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA