IHSG Masih Bisa Lanjutkan Reli, Asal..

WM
Oleh Wahid Ma'ruf
Senin 20 Januari 2020
share
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil menguat, namun secara teknikal IHSG masih mengalami konsolidasi dan cenderung bergerak datar.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, dalam sepekan, IHSG relatif tidak banyak bergerak dan cenderung terlihat bergerak sideways dalam jangka pendek. "Terlihat bahwa pergerakan IHSG masih relatif sama dan tidak banyak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya," seperti mengutip dari hasil risetnya, Minggu (19/1/2020).

Dengan demikian untuk support IHSG pada pekan ini diperkirakan masih berada dikisaran 6.210-6.218. Sementara untuk resistance minggu ini diproyeksikan akan berada di kisaran 6.348-6.414. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung berkonsolidasi dalam tren pergerakan positif.

Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pertemuan BI pada hari Kamis (23/1/2020) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap atau tidak berubah. Pelaku pasar akan mencari petunjuk dalam pertemuan tersebut mengenai prospek BI rate ke depan.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:
-Selasa 21 Januari 2020 : Kebijakan moneter BOJ, Rilis data pekerjaan Inggris
-Rabu 22 Januari 2020 : Rilis data keyakinan konsumen Australia
-Kamis 23 Januari 2020 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan moneter ECB
-Jumat 25 Januari 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data manufaktur Jerman, Rilis data manufaktur Inggris, Pernyataan Presiden ECB Lagarde

Meski masih mengalami konsolidasi dan cenderung bergerak sideways, namun IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Berkurangnya ketidakpastian global seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan telah ditandatangani kesepakatan dagang AS-China tahap satu, masih akan menjadi setimen positif yang mendorong pasar saham dunia.

"Namun reli kenaikan bisa saja terganjal oleh aksi profit taking, terutama apabila ada gejolak baru di market," jelasnya.

Efek Pakta Fase I
Bursa Wall Street kembali naik dan mencetak rekor tertinggi pada perdagangan akhir pekan, ditopang oleh menguatnya data perumahan AS dan sinyal ketahanan ekonomi China yang meningkatkan harapan rebound pada pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi China di periode tahun 2019 sebesar 6,1%, mengisyaratkan angka yang cukup kuat sekalipun PDB tersebut adalah yang paling rendah dalam 30 tahun terakhir.

Sedangkan pembangunan perumahan di AS kembali melonjak ke level tertinggi dalam 13 tahun terakhir untuk periode Desember, menunjukkan pemulihan pasar perumahan kembali ke jalurnya di tengah rendahnya tingkat hipotek.

Dow Jones ditutup naik 50,46 poin(+0,17%) ke 29.348,10, S&P 500 menguat 12,81 poin (+0,39%) ke level 3.329,62 dan Nasdaq bertambah 31.18 poin (+0,34%) ke posisi 9.388,94. Dalam sepekan Bursa Saham AS kembali menguat setelah AS dan China menandatangani kesepakatan perdagangan fase satu pada Rabu lalu.

Untuk sepanjang pekan kemarin, Dow Jones berhasil menguat +1,82% dan S&P 500 meningkat +1,97% dan Nasdaq melonjak +2,29%.

Bisa Bangkit
Dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat tipis 5,61 poin (+0,09%) ke level 6.291,657 pada akhir pekan. Investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp 170 miliar di pasar reguler. Dan untuk sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil menguat +0,27%, dengan diikuti oleh net buy investor asing di pasar reguler senilai Rp712 miliar dalam sepekan.

Sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, IHSG berhasil rebound pada pekan lalu seiring dengan penguatan bursa saham utama global yang didorong oleh kesepakatan dagang tahap satu antara AS-China, serta meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu dari data domestik, IHSG juga mendapatkan sentimen positif dari rilis data neraca dagang bulan Desember 2019. Meski masih tercatat mengalami defisit perdagangan senilai US$ 28 juta, namun angka tersebut telah mengecil dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat defisit sebesar US$1,3 miliar dan jauh di bawah konsensus yang memproyeksikan bakal mengalami defisit hingga US$456 juta.

Dengan hasil tersebut, maka untuk sepanjang tahun 2019 defisit neraca dagang Indonesia tercatat US$ 3,19 miliar atau turun dari tahun 2018 yang sebanyak US$8,69 miliar. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS, sehingga turut menjadi katalis positif bagi IHSG pada pekan lalu.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA