Kagama: Menangkan Persaingan, Brand Harus Kuat

IN
Oleh inilahcom
Minggu 26 Januari 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Banyak pebisnis mengeluhkan soal brand produknya sulit naik. Padahal, promosi sudah gencar dilakukan di media sosial (medsos). Termasuk membayar influencer, atau followernya jutaan namun pembeli minim.

Menurut alumnus Fakultas Psikologi UGM, Silih Agung Wasesa, brand harus dikembangkan secara sistematis. Demikian Silih memaparkan dalam KAGAMA Inkubasi Bisnis (KIB) bertajuk Smart Branding: Kiat Mengelola Brand untuk Tingkatkan Profit."

Silih yang merupakan konsultan revenue branding itu, telah menangani beberapa brand global maupun lokal, berfokus pada pembenahan revenue streaming. Ada enam hal, yang perlu dilakukan untuk mengembangkan brand secara sistematis. Pertama, meneentukan target market; dua mengetahui influencer pada target market.

"Kemudian memahami hot button (dasar konsumen pengambil keputusan); menyusun konten pesan yang akan disampaikan; memahami konteks; dan memilih channel sebagai media penyampaian pesan," kata Silih, Jakarta, Sabtu (25/1/2020).

Silih mencontohkan, sepatu merek X awalnya tidak begitu laku pada segmen anak SMA. Lantaran, anak SMA tersebut lebih menyukai merek lain. Dalam situasi seperti ini, kata Silih, pemilik brand sepatu X tersebut, perlu mengatur strategi untuk mempromosikan produknya.

"Dia bisa mencari orang yang berpengaruh atau influencer, misalnya ketua OSIS yang hobi olahraga dengan cara di-mention melalui media sosial, dan diundang ke outletnya," jelas Silih.

Si-ketua OSIS, lanjut Silih, ditawari untuk membeli sepatu tersebut dengan diskon 30%. Kualitas sepatu merek X yang bagus dan harganya murah itu, lantas diposting di akun media sosial Ketua OSIS tersebut.

"Pemilik sepatu merk X bilang kalau temannya beli sebut nama ketua OSIS dapat diskon 15%. Akhirnya teman-temannya membeli sepatu brand X itu, dan yang sebelumnya membeli merk lain beralih membeli merk X," tutup Silih.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif PP KAGAMA, Hasannudin M Kholil mengatakan, acara ini merupakan program rutin. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi para Alumni UGM, khususnya dalam aspek pengetahuan dan keterampilan bisnis.

"Kegiatan ini ditujukan untuk alumni UGM yang berminat memulai bisnis atau sudah memiliki usaha dan ingin memperbesar usahanya," ujar alumnus FISIPOL UGM ini.

Untuk diketahui, KAGAMA Inkubasi Bisnis telah diselenggarakan sebanyak enam kali dengan berbagai topik bisnis praktis seperti trading saham, start-up business, HAKI, NLP, dan digital marketing.

Dalam KIB seri VII ini fokus membahas kiat mengelola brand untuk tingkatkan profit dan memenangkan persaingan bisnis. "Ini berangkat dari pertanyaan banyak orang khususnya para alumni UGM yang baru memulai usaha mengapa produk dengan kualitas yang hampir sama tidak begitu laku, atau harganya lebih murah dibanding brand tertentu. Brand punya kekuatan dan nilainya mahal," pungkasnya. [tar]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA