IHSG di Persimpangan

WM
Oleh Wahid Ma'ruf
Senin 27 Januari 2020
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Secara teknikal IHSG terlihat masih bergerak dalam fase konsolidasi jangka pendek di kisaran area trading 6.218 hingga 6.337. Walaupun sebelumnya IHSG cenderung tertekan dan bergerak turun serta volume transaksi menipis.

Menurut praktisi pasar modal,Stefanus Mulyadi Handoko, terlihat bahwa support IHSG masih berada dikisaran 6.210-6.218, sedangkan resistance dikisaran 6.337-6.348. Penembusan keatas 6.348 akan membuka potensi penguatan menuju target di kisaran 6.468. Namun apabila turun ke bawah 6.210, maka IHSG akan mengkonfirmasi terbentuknya pola bearish double top dengan target pelemahan menuju 6.095.

"Indikator teknikal MACD yang cenderung bergerak turun di atas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak bervariatif cenderung berkonsolidasi," seperti mengutip hasil risetnya, Minggu (26/1/2020).

Pekan ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar. Investor mulai mencermati musim laporan keuangan akhir tahun 2019, dimana tiga bank besar yaitu BBNI, BBRI dan BMRI yang telah merilis laporan keuangannya pada pekan lalu dinilai cukup bagus.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:
Senin 27 Januari 2020 : Rilis data indeks iklim usaha Ifo Jerman
Selasa 28 Januari 2020 : Rilis data durable goods orders dan tingkat kepercayaan konsumen AS
Rabu 29 Januari 2020 : Rilis data inflasi Australia, Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Jepang, Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Gfk Jerman
Kamis 30 Januari 2020 : Kebijakan moneter suku bunga AS dan konferensi pers The Fed, Kebijakan moneter dan suku bunga Bank Sentral Inggris (BOE), Rilis data GDP AS
Jumat 31 Januari 2020 : Rilis data tingkat kepercayaan konsumen Inggris, Rilis data manufaktur NBS China, Rilis data GDP zona eropa, Rilis laporan pengeluaran dan pendapatan pribadi AS.

IHSG saat ini berada di persimpangan. Sentimen positif yang diperkirakan mampu menggerakan IHSG adalah fundamental ekonomi yang masih cukup baik terlihat dari turunnya defisit perdagangan, inflasi yang terkontrol, penguatan nilai tukar rupiah, dan naiknya cadangan devisa, serta pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih cukup stabil diatas 5%.

Selain itu katalis positif lainnya datang dari rilis laporan kinerja keuangan emiten FY 2019 yang diperkirakan masih cukup baik. Sementara sentimen negatif yang berpotensi untuk menekan IHSG adalah penyebaran coronavirus, serta kasus megakorupsi Jiwasraya-Asabri dan pembubaran reksadana yang bermasalah oleh OJK.

"Cermati area support IHSG di kisaran 6.210-6.218. Apabila level 6.210 dijebol ke bawah, maka IHSG berpotensi turun lebih lanjut."

Khawatirkan Virus Corona
Bursa Wall Street berakhir melemah akibat aksi jual investor yang meluas pada perdagangan akhir pekan. Para investor meninggalkan pasar saham di tengah kekhawatiran penyebaran wabah virus corona yang makin meluas, setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengonfirmasi kasus kedua virus corona di Chicago, AS.

Selain itu, WHO juga menilai bahwa kasus virus Cornona sudah dianggap keadaan darurat di China, karena telah menyebabkan 42 orang meninggal dunia dan telah menginfeksi lebih dari 1400 orang. Dow Jones ditutup turun 170,36 poin (-0,58%) menjadi 28.989,73, S&P 500 jatuh 30,07 poin (-0,90%) menjadi 3.295,47 dan Nasdaq melemah 87,57 poin (-0,93%) ke level 9.314,91.

Dalam sepekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir melemah, dengan Dow Jones ditutup turun -1,22%, S&P 500 merosot -1,03% dan Nasdaq berkurang -0,79%.

Transaksi Sepi
Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah tipis 5,101 poin (-0,08%) ke level 6.244,11 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing membukukan net buy di pasar reguler senilai Rp13 miliar. Dalam sepekan terakhir, IHSG terkoreksi sebesar -0,76%, dengan diikuti oleh aksi net sell investor asing senilai Rp804 miliar di pasar reguler.

IHSG sepanjang perdagangan pekan lalu diwarnai dengan koreksi. Pergerakan IHSG sejalan dengan bursa saham utama kawasan regional dan global yang bergerak melemah, karena kecemasan pelaku pasar akibat virus corona yang menjangkiti China dan menyebar ke berbagai negara lain telah menebar teror ke market.

Sementara dari dalam negeri, buntut kasus Jiwasraya dan Asabari serta industri reksadana yang membuat OJK selaku regulator pasar modal Indonesia melakukan suspensi saham dan pemblokiran terhadap 1000 sub rekening efek yang terkait dengan kasus Jiwasraya.

Selain itu soal pembubaran produk reksadana yang menawarkan fixed rate dengan melakukan likuidasi penjualan portfolio sahamnya, membuat likuiditas pasar semakin kering dan mengakibatkan transaksi perdagangan cenderung sepi.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA