PLN Susun Kerja Sama dengan Pertamina Terkait LNG

IH
Oleh Indra Hendriana
Kamis 30 Januari 2020
share
Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pihaknya akan membeli LNG yang dipasok oleh Pertamina. Namun, besaran harga LNG masih dalam proses negoisasi.

Meski tidak membeberkan harga LNG yang diinginkan PLN, dia menyebut proses negosiasi berjalan dengan kesamaan pandangan dan pemikiran. Nantinya kesepakatan negoisasi akan dituang dalam nota kerjasama.

"Kami sedang menyusun head of agreement," kata Darmawan di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Dia mengatakan, PLN sudah melakukan pemetaan wilayah mana saja yang pembangkitnya bisa dikonversi ke gas. Hasil identifikasi itu bisa dilakukan pada lima wilayah yakni Sumatera, Kalimantan, Bali Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua.

Menurut dia, identifikasi ini untuk memetakan perencanaan konstruksi pembangkit dan rencana pengoperasian pembangkit yang menggunakan BBM dan gas.

"Tentunya ada masa transisi dari BBM ke gas. Kami bersama Pertamina sedang merancang sistem infrastruktur dan pasokan yang pas," ujar dia.

Sementara itu, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Raharjo Abumanan mengatakan, harga LNG yang diinginkan serendah mungkin. Selama ini PLN membeli LNG dengan harga US$9,3/MMBTU. Ketika ditanya PLN menginginkan harga US$6/MMBTU, Djoko membenarkan.

"Kami hari ini belinya US$9,3/MMBTU untuk 55 kargo, bayangin. Iya iyalah (ingin harga US$6/MMBTU)," kata dia.

Adapun PT PLN (persero) dan PT Pertamina (persero) sedang menyusun pokok-pokok kerjasama (Head of Agreement/HoA) terkait gasifikasi pembangkit listrik.

Kerja sama kedua BUMN itu merujuk pada Keputusan Menteri ESDM No.13 Tahun 2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, Serta Konversi Penggunaan BBM dengan LNG Dalam Penyediaan Tenaga Listrik.

Beleid ini menugaskan Pertamina menyediakan pasokan dan membangun infrastruktur LNG yang dibutuhkan PLN untuk melakukan konversi bahan bakar pembangkit. Tak hanya itu, harga gas hasil regasifikasi LNG di pembangkit listrik harus dapat menekan biaya pokok produksi (BPP) listrik dibandingkan jika memakai BBM jenis High Speed Diesel.

Pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur dan kegiatan gasifikasi pembangkit ini rampung dalam jangka waktu paling lambat dua tahun sejak Kepmen ditetapkan.

Perubahan target penyelesaian pembangkit listrik, volume kebutuhan LNG, disepakati bersama antara PLN dan Pertamina dan dilaporkan ke Kementerian ESDM.[jat]

# TAG
PLN

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA