Virus Corona Menyebar

Warga Keturunan Tionghoa Alami Perlakuan Rasis

IN
Oleh inilahcom
Jumat 31 Januari 2020
share
 

INILAHCOM, Paris - Warga keturunan Tionghoa di Prancis dan Kanada mengatakan bahwa mereka telah mengalami perlakuan rasis di tengah merebaknya wabah virus corona.

Di Prancis, mereka menggunakan tagar #JeNeSuisPasUnVirus (Saya Bukan Virus) di media sosial, sedangkan di Kanada, muncul serangan online terhadap restoran China di sana.

Saat ini, di China telah terjadi lebh dari 7.000 kasus infeksi virus corona dan 170 orang meninggal.

Di Prancis, empat kasus sudah dipastikan, sedangkan di Kanada ada tiga kasus.

Sentimen rasis terhadap warga keturunan Tionghoa memang sudah dilaporkan terjadi di beberapa negara, termasuk Prancis dan Kanada.

Di Prancis, warga keturunan Tionghoa sempat marah ketika surat kabar lokal Le Courier Picard memajang berita utama 'Alerte jaune' (Waspada Kuning) dan 'Le peril jaune?' (Bahaya Kuning?), dilengkapi foto perempuan yang memakai masker pelindung.

Surat kabar ini bergegas minta maaf, menyatakan mereka tak bermaksud menggunakan 'stereotip buruk Asia'.

Seiring menyebarnya tagar, seorang perempuan di Kota Colmar, Prancis, bernama Cathy Tran, menyatakan ketika ia berangkat kerja ia sempat mendengar dua pria mengatakan, "Awas. Ada perempuan China ke arah kita."

Lou Chengwang juga bercuit di Twitter: "Saya orang China dan saya bukan virus! Saya tahu kita semua takut pada virus, tapi mohon jangan pelihara prasangka buruk."

Prancis berencana untuk mengirim pesawat ke Wuhan, kota yang menjadi pusat virus itu berasal, untuk mengevakuasi sekitar 250 orang, termasuk warga Uni Eropa non-Prancis.

Kasus keempat di Prancis disebut-sebut menimpa seorang turis China usia lanjut yang sedang berlibur di Paris.

Ternyata, sentimen rasis ini diarahkan tidak hanya kepada orang China.

Shana Cheng, warga Paris keturunan campuran Vietnam-Kamboja, mengatakan kepada BBC bahwa ia juga dipermalukan oleh penumpang bus hari Minggu (26/1/2020).

"Ada perempuan China! Dia bakal menulari kita. Dia harus pergi," Cheng mendengar seorang penumpang berkata begitu.

Menurut Cheng, orang-orang memandangnya dengan muka jijik, seakan-akan ia adalah virus.

Dia mengatakan, tak ada penumpang bus yang membelanya. Maka ia memutuskan untuk mengabaikan saja komentar itu sambil mendengar musik.

Cheng mengaku ia malah sengaja pura-pura batuk dan mendengus 'untuk sengaja mempermainkan' orang-orang di bus, katanya.

Sementara Tran mengaku bahwa ia tidak kaget akan reaksi orang-orang, dan virus corona jadi alasan orang bersikap rasis.

Bedaya, menurut Tran, ia belum pernah mengalami derajat rasisme seperti sekarang ini.

"Jarang kami mendengar orang-orang Asia di Prancis bicara soal rasisme, karena kami biasa mengalami ini sambil berdiam diri. Namun, kini kami merasa bersama, dan ini sudah kelewatan," katanya.

Sementara itu di Kanada, beberapa media melaporkan adanya sentimen rasisme terhadap warga China di sana, terutama di Kota Toronto.

Pengguna Twitter asal Toronto, Terry Chu, dan beberapa lainnya khawatir akan 'gelombang rasisme yang tak terhindarkan' seiring menyebarnya virus corona.

Saat ini sudah ada tiga kasus virus corona yang dipastikan di Kanada, dan ketiganya berasal dari China.

Namun komunitas China di sana sudah menjadi sasaran rasisme.

Di York, pinggiran Kota Toronto, sejumlah orang tua siswa mengedarkan dan menandatangani petisi online yang meminta siswa yang baru kembali dari China dalam 17 hari terakhir, dilarang masuk ke sekolah.

Hari Senin lalu (27/1/2020), pihak sekolah mengeluarkan surat mengutuk petisi tersebut di tengah kekhawatiran para siswa akan diincar di sekolah karena etnis mereka.

Sentimen rasis terhadap orang China pernah terjadi di Kanada seiring wabah SARS pada tahun 2003 lalu.

Saat panik terjadi akibat wabah tersebut, banyak bisnis orang China di Kanada mengalami kemerosotan penghasilan.

Kota Toronto sendiri mengalami kerugian yang diperhitungkan sebesar 1 miliar dolar Kanada akibat penduduk dan turis menghindari kota ini, terutama di bagian yang banyak dihuni oleh toko-toko dan bisnis orang China. [bbc/ikh]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA