Refleksi dan Prospek Sawit

2019 Penuh Tantangan, Produksi Minyak Sawit Rekor

IN
Oleh inilahcom
Senin 03 Februari 2020
share
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2019, produksi minyak sawit baik CPO (Crude Palm Oil) maupun PKO (Palm Kernel Oil) mencapai 51,8 juta ton. Terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengatakan, faktor utama yang memengaruhi produksi CPO dan PKO, adalah permintaan domestik yang cukup tinggi. Terjadi kenaikan 24% menjadi 16,7 juta ton.

Permintaan dalam negeri yang paling tinggi berasal dari konsumsi biodiesel sebesar 49%, pangan 14% dan oleokimia sebesar 9%. Sementara untuk volume ekspor sawit sepanjang 2019, mencapai 35,7 juta ton. Atau naik 4% jika dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 34,7 juta ton.

Kata Joko, secara volume, ekspor sawit memang mengalami kenaikan tetapi secara nilai mengalami penurunan dimana pada tahun 2019 nilai ekspor sawit mencapai US$ 19 miliar atau turun 17% jika dibandingkan dengan nilai ekspor sawit pada 2018 yang mencapai US$23 miliar.

Penurunan nilai ekspor tidak terlepas dari tekanan harga komoditas sejak 2018 dimana terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. "Tahun 2019 boleh dikatakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia khususnya untuk ekspor, kalau untuk dalam negeri tidak ada masalah," ujar Joko dalam Press Conference Gapki bertema Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020 di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Joko mengungkapkan, sepanjang 2019 terdapat juga implementasi RED II oleh Uni Eropa yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, kemudian terdapat perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan.
Pada 2019, ada kabar yang menarik dan memberikan angin segar bagi industri sawit yaitu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan dalam pidato kenegaraan, bahwa Indonesia akan lebih banyak mengonsumsi sawit untuk keperluan dalam negeri terutama biofuel. Dampaknya harga CPO rata rata terus melonjak menjadi US$483; US$497; US$582; dan US$651 per ton periode September-Desember 2019.

Keputusan Presiden Jokowi tersebut sangat berdampak positif pada produksi sawit dan tentunya memberikan nilai tambah bagi pasar sawit dalam negeri. Destinasi ekspor untuk produk sawit tahun 2019 adalah Tiongkok sebesar 6 juta ton, kemudian India mencapai 4,8 juta ton, Uni Eropa mencapai 4,6 juta ton. Pasar Uni Eropa memang berat karena pemerintahnya dari dulu sudah menolak sawit indonesia yang dianggap tidak ramah lingkungan. Pemerintah terus berupaya untuk melobi pemerintah Eropa agar mau menerima sawit Indonesia karena kualitas sawit indonesia paling bagus.

Sepanjang 2019, kabar yang cukup positif adalah ekspor minyak sawit ke Afrika naik 11% pada 2019 menjadi 2,9 juta ton dari 2,6 juta ton pada 2018. Tahun 2019, ditutup dengan harga melonjak di atas US$ 800/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tarif impor minyak sawit Indonesia di India. Situasi finansial yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik baiknya oleh pekebun terutama untuk membiayai pemulihan tanaman dan infrastruktur. Akhir 2019 mulai dipersiapkan pelaksanaan implementasi B30 yang juga memberikan dampak positif pada perbaikan neraca dagang. [tar]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA