IHSG Masih Bisa Turun

WM
Oleh Wahid Ma'ruf
Senin 10 Februari 2020
share
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - IHSG masih berada dalam tren turun jangka pendek, meskipun berhasil rebound.Indikator teknikal MACD masih berada di bawah centerline dan cenderung mulai bergerak mendatar.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG kemungkinan masih bergerak dalam pola konsolidasi cenderung turun. Pergerakan IHSG pekan ini diperkirakan akan berada dikisaran area support 5.887 dan resistance di 6.113.

"Apabila turun di bawah 5.887, maka IHSG berpeluang melanjutkan trend bearish menuju support berikutnya di level 5.767. Akan tetapi apabila IHSG mampu melanjutkan reboundnya dan menembus ke atas resistance 6.113, maka IHSG akan mengakhiri tren turunnya dan berpotensi mulai berbalik arah bergerak menguat," seperti mengutip dalam hasil risetnya, Minggu (9/2/2020).

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data current account kuartal 4 tahun 2019 dan penjualan ritel bulan desember 2019 pada hari senin. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada minggu ini diantaranya adalah:

Senin 10 Februari 2020 : Rilis data inflasi China
Selasa 11 Februari 2020 : Rilis data neraca dagang & GDP Inggris, Pernyataan Presiden ECB Lagarde, Pernyataan Ketua The Fed Powell, Pernyataan Gubernur BOE Carney
Rabu 12 Februari 2020 : Pernyataan Ketua The Fed Powell
Kamis 13 Februari 2020 : Pernyataan Gubernur RBA lowe, Rilis data inflasi AS
Jumat 14 Februari 2020 : Rilis data GDP Jerman dan Zoba Euro, Rilis data penjualan ritel AS.

Kemungkinan pekan ini pasar akan kembali dikhawatirkan terkait virus korona. Masih ada potensi resiko ke depan mengingat jumlah kasus orang yang terinfeksi virus ini terus bertambah, meski jumlah yang sembuh lebih cepat dari pada korban yang meninggal.

Data terbaru (hingga ulasan ini ditulis) jumlah kasus yang terinfeksi virus korona telah mencapai lebih dari 37.553 orang, dengan angka kematian korban jiwa mencapai 813 orang dan jumlah orang yang dinyatakan sembuh mencapai 2.685.

Pelaku pasar diperkirakan akan mulai mengkhawatirkan dampak kerusakan ekonomi China bagi perekonomian dunia akibat wabah virus corona. "Ekonomi dunia pasti akan terganggu akibat karantina yang menganggu rantai pasokan global karena banyak pabrik China yang tutup."

Aksi Ambil Untung
Bursa Wall Street Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, setelah mencetak rally dalam 4 hari sebelumnya. Kekhawatiran atas dampak virus corona pada perekonomian China, menutupi rilis data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.

Departemen tenaga kerja AS merilis data non farm payrolls naik sebesar 225.000 di periode bulan Januari, melebihi perkiraan para analis sebesar 160.000 lapangan pekerjaan. Data non farm payrolls ini mengikuti indikator perekonomian AS lainnya yang menggembirakan di awal pekan.

Namun kekhawatiran terhadap perkembangan wabah virus corona, membuat pasar bergerak turun, menyusul aksi ambil untung yang dilakukan oleh pelaku pasar.

Dow Jones ditutup turun 277,26 poin (-0,94%) ke level 29.102,51, S&P 500 melemah 18,07 poin (-0,54%) ke posisi 3.327,71 dan Nasdaq berkurang 51,64 poin (-0,54%) menjadi 9.520,51. Meski melemah di akhir pekan, namun dalam sepekan bursa saham AS berhasil ditutup menguat.

Secara mingguan, Dow Jones mengalami kenaikan +3,0%, S&P 500 melonjak +3,17% dan Nasdaq meningkat +4,04%.

IHSG di Bawah 6.000
Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir menguat +12,461 poin (+0,21%) ke level 5.999,607 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp50 miliar di pasar reguler.

Dalam sepekan, IHSG berhasil mengalami kenaikan sebesar +1% dengan diikuti oleh aksi net buy investor asing di pasar reguler senilai Rp312 miliar.

IHSG berhasil rebound pada pekan lalu, setelah turun tajam pada 2 pekan sebelumnya. Penguatan IHSG tidak lepas dari berbagai sentimen dari global maupun domestik.

Dari ekternal, Bank sentral China (PBOC) mengeluarkan beberapa stimulus, yaitu dengan menyuntikan total dana senilai 1,7 triliun yuan atau sekitar US$242,74 miliar lewat reverse repo. Selain itu, PBOC juga akan menurunkan suku bunga pinjaman dan Giro Wajib Minimum (GWM), guna mengurangi dampak wabah virus corona bagi perekonomian China yang dikhawatirkan akan melambat.

Di sisi lain, pemerintah China juga mengumumkan akan mengurangi setengah tarif impor AS senilai US$75 miliar. Tarif beberapa barang AS akan dipotong dari 10% menjadi 5%, dan dari 5% menjadi 2,5% pada yang lainnya, yang akan mulai berlaku efektif pada 14 Februari, sebagai bagian dari realisasi kesepakatan perdagangan fase pertama antara AS dan China.

Sementara dari dalam negeri, rilis beberapa data ekonomi seperti data inflasi yang terjaga pada bulan Januari di angka 0,39% secara bulanan (MoM) dan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 di angka 5,02%. Serta rilis data cadangan devisa akhir Januari 2020 sebesar US$ 131,7 miliar atau mengalami kenaikan sebesar US$2,5 miliar, menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG pada pekan lalu.

Meski berhasil rebound dan mengalami kenaikan dalam 4 hari berturut-turut, IHSG masih gagal kembali ke level 6.000. IHSG terlihat hanya mengalami teknikal rebound, namun masih dalam tren turun selama masih belum dapat menembus ke atas downtrend resistline di 6.113, yang juga merupakan area fibonacci retracement 50% nya.

Secara teknikal, jika sebuah pantulan belum dapat melewati 50% fibonacci retracement, maka itu merupakan pantulan yang lemah atau hanya teknikal rebound sesaat saja.


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA