Inilah Kelemahan Tim Ekonomi Jokowi Jilid II

IN
Oleh inilahcom
Rabu 12 Februari 2020
share
Ekonom Senior, DR Rizal Ramli - (Foto: Inilahcom/Didik)

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom Senior, DR Rizal Ramli punya analisa tajam terkait stagnasi ekonomi 5% yang dialami Indonesia di periode dua Presiden Joko Widodo (Jokowi). Apa itu?

Dalam sebuah acara talkshow kondang di sebuah stasiun televisi nasional, Jakarta, Selasa (11/2/2020), Rizal mengatakan, akar permasalahannya adalah masih kuatnya sistem politik uang alias money politics. Alhasil, banyak tokoh nasional yang mumpuni dan berintegritas, tidak direkrut pemerintah.

Selanjutnya dirinya menyindir partai politik yang dikelola tak ubahnya perusahaan keluarga. Akibatnya, kader parpol yang potensial tidak punya kesempatan untuk menduduki posisi tertinggi yakni ketua umum. "Yang menghancurkan ini (kesempatan Indonesia menjadi negara baik) semua adalah money politics. Akibat money politics, pemilihan," kata Rizal.

Mantan Menko Kemaritiman di Kabinet Indonesia kerja besutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, membeberkan perbedaan sistem politik Indonesia dengan sejumlah negara. Dimulai ketika Rizal bertanya kepada Perdana Menteri Belanda, berapa uang yang dikeluarkan demi memperoleh posisi perdana menteri.

Merasa tersinggung, PM Belanda itu mengatakan hal yang dijualnya adalah ide, bukan uang. Dia pun membandingkan kejadian tersebut dengan realita yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, dirinya mengkritisi sistem balas jasa dalam rekrutmen pejabat negara. Sehingga, jangan heran apabila banyak menteri di Kabinet Indonesia Kerja gagap dengan visi dan misi Jokowi. Karena, ya itu tadi, dipilih karena tanda terima kasih telah membantu dalam masa kampanye, dan berkontribusi atas kemenangan politik pemimpinnya.

Meski begitu, Rizal menyanjung kinerja Kementerian BUMN yang dipimpin Erick Thohir. Banyak gebrakan yang bertujuan mulia, memberihkan BUMN dari praktik kotor. Hanya saja, jumlah BUMN yang berkualitas dibandingkan dengan yang bermasalah, masih lebih banyak yang bermasalah. "Dalam praktiknya banyak juga yang bagus, yang hebat, sayangnya lebih banyak yang bermasalah," jelas mantan Menko Ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid ini. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA