Genjot Investasi, RI Baru Merapat ke Australia

IH
Oleh Indra Hendriana
Jumat 14 Februari 2020
share
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai, kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan Australia, seharusnya sudah terjalin sejak lama.

Selama ini, dia melihat, ketertarikan Australia masih sebatas komitmen investasi. Belum berwujud riil lantaran masih banyak hambatan yang dirasakan investor dari negeri Kanguru.

"Selama ini sudah Rp500 triliun komitmen investasi mangkrak. Angka ini cukup signifikan kalau direalisasikan. Jadi dengan kondisi tekanan ekonomi yang tinggi seperti saat ini, investasi baru dari Australia, bakal butuh waktu lama untuk direalisasikan," kata Bhima, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Sementara, pengamat media sosial Darmansyah memandang optimis akan kerja sama Indonesia-Australia bakal memberi stimulus positif bagi perekonomian nasional. "Ya bagus kalau begitu. Biar nggak cari utang luar negeri," kata Darmansyah.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengundang pelaku bisnis Australia yang hadir dalam forum Indonesia-Australia Business Roundtable bersama Presiden RI, untuk datang ke Indonesia. Tentu saja tujuannya untuk bisnis, baik di sektor barang, jasa, maupun investasi.

Agus memanfaatkan di sela-sela mendampingi Presiden RI dalam kunjungan kerja ke Canberra, saat menghadiri forum tersebut yang digelar di Canberra Room, Hotel Hyatt, Canberra, Australia, Senin, (10/2/2020).

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan bahwa Indonesia siap menjadi negara yang ramah investasi. Di mana, IA-CEPA bukan hanya menghapuskan tarif bea masuk di antara kedua negara, tetapi harus membuka peluang investasi Australia di berbagai sektor. Presiden memastikan bahwa pelaksanaan IA-CEPA akan menguntungkan rakyat kedua negara.

Agus menyatakan, para pelaku bisnis dapat memanfaatkan IA-CEPA yang sudah selesai ditandatangani dan diratifikasi oleh kedua negara. "Indonesia ingin meningkatkan perdagangan, khususnya ekspor, dan mengejar surplus dengan Australia," kata Agus.

Melalui IA-CEPA, Indonesia dapat membeli produk-produk baku atau penolong dari Australia untuk dibuat produk jadinya di Indonesia, kemudian diekspor ke dunia. Sebaliknya, Australia membeli produk-produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industrinya yang berorientasi ekspor. [ipe]


BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA