Mojokerto Masih Terancam Banjir dan Longsor

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 15 Februari 2020
share
(beritajatim)

INILAHCOM, Mojokerto - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menegaskan, jika ancaman banjir dan longsor (Bansor) masih mengintai Kabupaten Mojokerto.

Menyusul, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Surabaya memprediksi cuaca ekstrim akan berlangsung hingga April 2020 mendatang.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan ancaman bansor masih akan berpotensi terjadi di wilayah Mojokerto. "Ada 5 wilayah yang kita petakan rawan bansor, yakni Kecamatan Pacet, Trawas, Jatirejo, Gondang dan Ngoro. Karena ke 5 kecamatan tersebut berada di lereng gunung," ungkapnya, Sabtu (15/2/2020).

Masih kata Zaini, lima kecamatan tersebut berada di atas ketinggian atau tepat di kaki gunung dan bukit. Sehingga masyarakat yang berada di wilayah Trawas, Pacet, Jatirejo, Gondang dan Ngoro diminta waspada terhadap ancaman tanah longsor dan banjir bandang akibat cuaca ekstrem yang ditandai dengan tingginya curah hujan.

Sementara bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Dawarblandong, Puri, Mojosari, Bangsal, Pungging, Sooko, dan Jetis yang menjadi langganan banjir diminta pula waspada. Yakni dengan ditandai jika sewaktu-waktu aliran Sungai Lamong, Kali Sadar dan Cemporat yang melintas di wilayah permukiman tersebut meluap.

"Seperti Jumat, pekan lalu. Hujan lebat menguyur wilayah Mojokerto selama dua jam lebih banyak sungai di wilayah Pacet, Gondang dan Jatirejo meluap ke pemukiman. Akibat sungai tak mampu menampung debit air. Penyebab terjadinya bencana tidak lain disebabkan kebakaran hutan yang terjadi di sepanjang tahun 2019," katanya.

Selama musim kemarau tahun 2019 lalu, jelas Zaini, di wilayah Kabupaten Mojokerto telah terjadi kebakaran hutan pegunungan kurang lebih dengan luas 851,9 Ha. Sehingga berpotensi menimbulkan terjadinya bencana bansor karena terbakarnya vegetasi hutan menyebabkan akar pepohonan tidak lagi mampu menahan curah hujan.

"Selain itu, penyebab bencana juga disebabkan beralihnya tanaman hutan dari jati ke sengon. Kondisi sungai sebagian besar tidak terawat, daerah serapan berkurang akibat alih fungsi lahan, moral manusia yang suka buang sampah, pengambilan bebatuan di alirkan sungai yang tak terkendali hingga ketegasan penerapan hukum yang masih lemah," ujarnya.

Sehingga merusak lingkungan merajalela menjadi penyebab adanya bencana. Pihaknya menghimbau kepada masyarakat, jika terjadi hujan dengan durasi dua sampai tiga jam tanpa henti, maka masyarakat yang berada di daerah rawan bansor untuk menyiagakan diri karena ancaman bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. [beritajatim]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA