IHSG Bisa Lanjutkan Pelemahan

WM
Oleh Wahid Ma'ruf
Senin 17 Februari 2020
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Untuk pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di area support 5.767 dan resistance di level 5.939. Apabila mampu melewati ke atas 5.939, maka IHSG berpeluang menguji area resistance selanjutnya di level 6.013.

Praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko mengatakan wabah penyebaran virus korona dan krisis kepercayaan investasi di pasar saham akibat kasus reksadana bermasalah serta skandal korupsi Jiwasraya masih tetap menjadi fokus utama perhatian para investor.

"IHSG kemungkinan masih akan melanjutkan penurunannya. Apabila terjadi rebound sifatnya hanya terbatas atau hanya konsolidasi sementara," seperti mengutip dari hasil catatannya, Minggu (16/2/2020).

Pekan ini pelaku pasar menunggu data ekspor-impor dan neraca perdagangan Indonesia bulan Januari 2020 yang akan dirilis pada hari senin besok. Sementara pada hari kamis dalam RDG BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan tetap di level 5%.

Sedangkan dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada minggu ini diantaranya adalah:
Senin 17 Februari 2020 : Rilis data GDP Jepang
Selasa 18 Februari 2020 : Kebijakan moneter Australia, Rilis data pekerjaan Inggris, Rilis data sentimen ekonomi Jerman
Rabu 19 Februari 2020 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pendapatan Australia, Rilis data inflasi Inggris, Laporan meeting The Fed
Kamis 20 Februari 2020 : Rilis data pekerjaan Ausralia, Rilis data penjualan ritel Inggris, Meeting ECB
Jumat 21 Februari 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data manufaktur zona eropa, rilis data manufaktur Inggris, Rilis data manufaktur AS

Bursa AS Variatif
Bursa Wall Street bergerak stagnan dan berakhir bervariasi di akhir pekan, menyusul kombinasi data negatif penjualan ritel AS dan kabar bahwa pemerintah AS mempertimbangkan insentif pajak bagi orang-orang di AS untuk membeli saham.

Data penjualan ritel tidak termasuk penjualan mobil, bensin dan material bangunan serta pangan relatif stagnan.

Sementara itu CNBC melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump akan memperkenalkan insentif pajak bagi orang-orang yang berpenghasilan kurang dari US$ 200.000 hingga US$ 10.000 untuk berinvestasi di pasar saham AS.

Dow Jones ditutup turun tipis 25,23 poin (-0,09%) menjadi 29.398,08, S&P naik 6,22 poin (+0,18%) ke level 3.380,16 dan Nasdaq menguat 19,21 poin (+ 0,2%) menjadi 9.731,18.

Ketiga indeks saham utama AS menorehkan kenaikan mingguan, dengan Dow Jones naik +1,02%, S&P 500 meningkat +1,58% dan Nasdaq menguat +2,21%.

Isu Blokir Rekening Efek
Dari dalam negeri, IHSG melemah tipis 5,01 poin (-0,09%) ke level 5.866,945 di akhir pekan. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp368 miliar di pasar reguler. Sepanjang pekan lalu, IHSG turun -2,21% meski investor asing mencatatkan net buy di pasar reguler senilai Rp92 miliar.

Di tengah penguatan mayoritas bursa saham global pada pekan lalu, IHSG justru kembali bergerak melemah. Meski lembaga pemeringkat internasional Moodys Investor Service masih memberikan predikat investment grade terbaru dengan outlook yang stabil pada Indonesia.

Hal ini, seiring stabilnya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, rendahnya beban utang pemerintah dan disiplin fiskal yang konsisten. Selan itu rilis data CAD tahun 2019 yang membaik dengan defisit transaksi berjalan turun ke level 2,72% dari PDB Indonesia, namun hal itu belum cukup mendorong penguatan IHSG.

Pelemahan IHSG sepanjang pekan lalu disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar yang dipicu oleh adanya isu pemblokiran rekening efek dan rumor gagal bayar suatu produk reksadana.

Aksi bersih-bersih yang sedang dilakukan oleh regulator dan aparat penegak hukum dalam penanganan kasus dugaan korupsi Jiwasraya, serta upaya untuk mengembalikan industri reksadana yang sehat, justru membuat market malah tertekan.

Pasar khawatir suspensi sejumlah akun di sekuritas dan likuidasi beberapa reksadana yang tidak melakukan kepatuhan atau melanggar aturan masih akan terjadi. Akhirnya mengakibatkan turunnya transaksi perdagangan di bursa dan menyebabkan IHSG kembali tertekan sepanjang pekan lalu.

Belum lagi kekhawatiran investor terkait dampak negatif dari virus korona terhadap ekonomi China akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia yang merupakan mitra bisnis utama China turut menjadi senitmen negaitf bagi IHSG.

Sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, bahwa IHSG mengalami teknikal rebound dalam tren turun. Hal ini terbukti setelah gagal kembali ke atas level psikologis 6.000, IHSG malah mencetak lower low lagi dengan break down level 5.877.

Kondisi ini menunjukan bahwa secara teknikal IHSG masih berada di fase downtrend.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA