Kinerja Oke, LPKR Semakin Diburu Investor Asing

IN
Oleh inilahcom
Selasa 18 Februari 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kinerja positif semakin ditunjukkan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Dalam tiga pekan terakhir, LPKR masuk daftar 10 saham yang paling diburu investor asing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham LPKR masuk dalam daftar 10 saham paling diburu investor asing pada 30 Januari, 3 Februari, dan 13 Februari 2020. Terakhir pada 13 Februari 2020, LPKR menjadi saham kedua yang paling diburu investor asing setelah PGAS. Dengan total pembelian mencapai 21,21 juta lembar di harga Rp232 per lembar.

Minggu sebelumnya, yaitu pada 3 Februari 2020, LPKR sempat bertengger di posisi pertama sebagai saham yang paling diincar investor dengan pembelian mencapai 22.13 juta saham.

Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi mengatakan, kinerja positif LPKR sejalan dengan tren bisnis di sektor properti yang tumbuh positif.

Apalagi dari sisi bunga juga saat ini masih kompetitif. Kemudian ekonomi secara makro menurutnya juga masih cukup baik. Dengan kepemilikan aset yang besar, juga struktur permodalan kuat, kata dia, LPKR diyakini semakin mudah melakukan ekspansi bisnis.

Tak hanya itu, LPKR juga dinilai lihai dalam membaca arah bisnis sekaligus mendapat dukungan dari berbagai mitra strategis. Dukungan konsumen properti atas berbagai inovasi perseroan menurutnya juga mendukung kinerja positif perseroan.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony mengatakan, secara keseluruhan, bisnis LPKR memang fokus di bidang properti dan kesehatan. Di mana bisnis properti dan kesehatan secara animo masih cukup baik.

Sektor kesehatan sendiri masih menarik karena segmen bisnis yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian, bisnis properti dan rumah sakit akan menghasilkan pendapatan berulang (recurring income). Dengan memperbesar recurring income perusahaan akan lebih stabil.

Aksi korporasi paling anyar LPKR yakni berhasil menyelesaikan Tap Issue senilai US$95 juta dari obligasi lima tahunan yang saat ini mencapai US$325 juta.

John Riady, CEO LPKR menyampaikan, Tap Issue senilai US$95 juta tersebut, menawarkan imbal hasil 7,80%. Atau lebih rendah 32.5 bps dari obligasi yang diluncurkan pada Januari 2020.

"Nantinya, dana Tap Issue digunakan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo pada 2022. Transaksi ini menunjukkan investor memiliki keyakinan pada posisi keuangan dan masa depan LPKR," ucap John

Lippo Karawaci dijelaskan John, tidak akan memiliki utang besar yang akan jatuh tempo selama lima tahun ke depan sampai dengan 2025. Bahkan, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas 21%, Lippo Karawaci memiliki leverage terendah di antara semua perusahaan real estat Indonesia. Tap Issue mendapat respons positif di kalangan investor dengan kelebihan permintaan 2 kali dan kelebihan pesanan US$183 juta. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA