Lima Desa di Mojokerto Deklarasi Stop BABS

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 22 Februari 2020
share
(Foto: Beritajatim)

INILAHCOM, Mojokerto - Lima desa di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto resmi menyatakan deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) atau Open Defecation Free (ODF).

Kelima desa tersebut yakni Desa Mojorejo, Banjartanggul, Tempuran, Tunggalpager dan Lebaksono.

Deklarasi digelar di wisata Bukit Bunga Mojorejo (BBM), Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Deklarasi disaksikan Bupati Mojokerto, Pungkasiadi bersama Ketua Tim Pengerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Yayuk Pungkasiadi beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Bupati Mojokerto Pungkasiadi menjelaskan, strategi pembangunan kesehatan di Indonesia dibangun dengan 3 pilar. Yakni paradigma sehat, penguatan akses pelayanan kesehatan, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tiga paradigma tersebut, juga ikut tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta visi misi Pemkab Mojokerto.

Salah satu implementasinya yakni dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk komitmen untuk stop BABS. Pung (sapaan akrab, red) juga meminta agar seluruh desa di Kecamatan Pungging bisa bebas ODF semua tanpa terkecuali. "Kabupaten Mojokerto memang menargetkan bebas ODF di tahun 2020," ungkapnya.

Di Kecamatan Pungging sudah ada lima desa yang mendeklarasi bebas PDF. Sehingga Pung berharap 13 desa di Kecamatan Pungging lainnya bisa menyusul. Bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Pung juga mengajak seluruh masyarakat agar semakin peduli kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

"Setiap ada deklarasi ODF, saya usahakan selalu datang agar semua wilayah yang lain yang belum ODF ikut terpacu untuk menyusul. Dan Pemkab Mojokerto pun akan terus konsisten memberi edukasi pentingnya mengeliminasi persoalan sampah, melalui 3 pilar (Pemerintah, Pendidikan, dan Masyarakat)," katanya.

Pilar pertama yakni sektor pemerintah, direalisasikan dengan aksi memberikan fasilitas TPS 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) di seluruh desa dan pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terpadu. Pilar kedua, melibatkan sektor pendidikan dimulai dengan mengajarkan pengelolaan sampah sejak dini di sekolah.

Pilar ketiga, masyarakat harus aktif berperan dalam memisah sampah, mengolah yang organik menjadi kompos dan menjual kembali sampah anorganik ke bank sampah unit setempat. [beritajatim]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA