Food Station Kembangkan Teknologi ini di Jakarta

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 22 Februari 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sinergi BUMD yang berada di naungan Pemprov DKI Jakarta terus menyebar hingga berbagai sektor. Salah satunya adalah sinergi antara Bank DKI dengan Food Station.

Disela-sela Seminar Nasional Bank Pembangunan Daerah (BPD SI) di Jakarta (22/2), Direktur Utama PT Food Station Arief Prasetyo Adi mengatakan kerja sama dengan Bank DKI telah bergulir sejak 2015. "Pendanaan bergulir Bank DKI yang kami terima memiliki plafon mulai dari Rp100 miliar, Rp150 miliar hingga mencapai Rp300 miliar per tahun," ujar Arief.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan anggaran tersebut diperuntukan bagi pengembangan teknologi dalam memperpanjang usia kelayakan pangan bagi konsumen. "Ada barang yang umurnya memang pendek seperti ikan segar, sayur, cabai tapi kita punya teknologi memperpanjang save life, bisa diatur nitrogen, oksigen dan kelembapannya," tutur Arief.


Teknologi tersebut diklaim efekti memperpanjang masa simpan pangan tanpa mengurangi kandungan gizi maupun proteinnya. Salah satu teknologi yang dimanfaatkan untuk menjaga harga pangan murah adalah mesin pendingin untuk komoditas ikan kembung dan bawang putih.

"Jumlahnya ribuan ton kita simpan dalam mesin pendingin. Pada saat terjadi short suplay, harga masih bisa lebih murah dari pasaran," ungkap Zainudin. Arief mengatakan pangan murah yang difasilitasi Food Station bisa mencapai 15 persen lebih murah dari harga pasaran yang berlaku melalui penerapan teknologi yang dibiayai Bank DKI.

Selain fasilitas pinjaman kredit untuk trading dan komoditi, Bank DKI juga memberikan fasilitas kredit kepada supplier (Supply Chain Financing). Melalui fasilitas kredit tersebut, tagihan vendor atau supplier mitra kami ditalangin lebih dulu oleh Bank DKI. "Saya kira ini manfaat yang dihadirkan oleh Bank DKI saat bekerjasama dengan BUMD lain sangat luar biasa," jelas Arief.

Selain melalui penyaluran kredit dari Bank DKI, Foodstation memiliki kerjasama dengan Bank DKI terkait dengan penerbitan Kartu Pedagang PIBC. Kartu yang diterbitkan 20 November 2019 lalu tersebut bukan hanya kartu biasa sebatas identitas pedagang, tetapi juga bisa digunakan untuk banyak fungsi. Misalnya untuk pembayaran retribusi pasar, alat pembayaran masuk ke Monas, Ragunan, naik LRT, MRT serta MRT dan angkutan umum yang sudah terintegrasi dengan Jaklingko.

Pedagang yang ada di PIBC juga bisa memanfaatkan secara makismal kehadiran Kantor Layanan Bank DKI yang ada disini. Karena kehadiran Bank DKI di PIBC sejauh ini memberikan manfaat optimal kepada stakeholder yang ada di PIBC.


"Kalau pedagang kesulitan keuangan uang untuk membayar sewa kios, Bank DKI bisa menghadirkan dana talangan. Dana talangan serupa juga bisa diberikan saat pedagang melakukan aktifitas penjualan dan pembelian. Kedua layanan tersebut diberikan dengan rate khusus untuk pedagang yang ada di PIBC. Karena itu jangan ada keraguan untuk memanfaatkan semua layanan yang ada di Bank DKI," ungkap Arief. [wll]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA