Bisnis Asuransi

Akademisi: Mega Skandal Jiwasraya Tidak Sistemik

IH
Oleh Indra Hendriana
Senin 24 Februari 2020
share
Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) ternyata tidak berdampak sistemik terhadap industri asuransi. Kasus ini hanya memberikan pengaruh 0,19% ke industri asuransi.

"Industri asuransi tumbuh 8 persen year on year (yoy) dan aset 5,91 persen. Kalau dibilang ini kasus sistemik, tidak, Jiwasraya dari total aset 1,6 persen dari industri asuransi atau 0,19 persen dari seluruh industri keuangan. Jadi, sangat kecil," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal dikutip di Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Kata dia, meski di tahun ini pertumbuhannya agak melambat, tapi asuransi jiwa secara industri masih aman dan secara portofolio juga masih baik.

Pasalnya dari sisi rasio kecukupan modal (Risk Based Capital/RBC) yakni 345% untuk asuransi umum, dan 789% untuk asuransi jiwa. Persentase tersebut jauh diatas batas aman yakni 120 persen.

Sedangkan, Jiwasraya bermasalah karena RBC sudah minus 800% dan butuh Rp32 triliun agar sesuai standar 120%. "Jiwasraya bisa kolaps karena minus 800 persen butuh Rp32 triliun untuk 120 persen," kata dia.

Sementara, Prudential Indonesia yang berbisnis produk asuransi konvensional dan syariah, terus melakukan edukasi kepada masyarakat demi meningkatnya literasi keuangan di negeri ini. Perusahaan pun terus mengembangkan aktivitas pemasarannya. Salah satu kampanye yang mereka lakukan sejak tahun lalu, adalah We DO.

"Kampanye ini selanjutnya kami turunkan ke dalam empat fokus, yaitu We Do Health, We Do Wealth, We Do Technology dan We Do Good," ujar Luskito Hambali selaku Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia.

Melalui We Do Wealth, Prudential memberikan solusi dan membantu konsumen dalam proses perencanaan keuangan. Tujuannya, agar konsumen dapat meningkatkan kesejahteraan mereka di masa depan.

Dalam mewujudkan hal ini, teknologi menjadi instrumen kunci. Khususnya, dalam mewujudkan beragam inovasi yang tepat sasaran bagi kebutuhan pelanggan yang dinamis. "Di Prudential Indonesia, kami telah mengintegrasikan inisiatif-inisiatif digital ke dalam strategi perusahaan. Hal ini sejalan dengan semangat We Do Technology," lanjut Luskito.

Ekosistem digital ini pun telah dibangun sejak tahun lalu. Tak sendirian, Prudential juga menggandeng pemain terkemuka di bidang teknologi. "Sebentar lagi, kami akan memperkenalkan aplikasi Pulse by Prudential. Aplikasi ini dapat digunakan oleh pelanggan maupun masyarakat umum," tambah Luskito.

Tak hanya berkonsentrasi pada inovasi teknologi, praktik tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sesuai peraturan perundangan-undangan juga dijunjung tinggi oleh perusahaan. Komitmen tersebut akan dijaga ke dalam seluruh proses bisnis dan interaksi perusahaan dengan pelanggan, regulator, mitra bisnis, praktisi media, dan stakeholder lainnya.

"Untuk para rekan-rekan jurnalis, kami menggelar sesi Prudential Indonesia Journalist Masterclass 2020. Program ini berisi informasi mengenai outlook ekonomi makro Indonesia, hingga sharing mengenai cara memahami laporan keuangan perusahaan asuransi. Program inilah yang sejalan dengan semangat We Do Good kami," kata Luskito. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA