AS Copot Status RI, Rizal Sudah Bicara Sejak Lama

IN
Oleh inilahcom
Selasa 25 Februari 2020
share
Ekonom senior DR Rizal Ramli - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Status Indonesia sebagai negara berkembang, ujug-ujug dicabut Amerika Serikat (AS) dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Selain RI, ada negara lain yang bernasib sama yakni Brazil, India, dan Afrika Selatan. Semuanya dicabut dari preferensi khusus dalam daftar anggota Organisasi Perdagangan Dunia (World Trage Organization/WTO). Informasi saja, pernyataan ini dikeluarkan oleh Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR).

Pengamat perdagangan, Xue Rongjiu, mengatakan, pengumuman pencabutan beberapa negara tersebut, jelas merusak otoritas sistem perdagangan multilateral yang selama ini terjalin dengan baik. "Tindakan unilateralis dan proteksionis seperti itu telah merugikan kepentingan China dan anggota WTO lainnya," kata Xue, dikutip dari The Star Online, Sabtu (22/2/2020).

Sedangkan ekonom senior DR Rizal Ramli mengungkapkan, Indonesia akan sulit berkembang jika visi dan implementasi dalam menjalankan sebuah negara tidak sejalan. Hal ini sudah dia sampaikan dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun tv swasta nasional, beberapa waktu lalu.

Rizal menuturkan, program yang disampaikan oleh calon pemimpin negara, hanya merupakan alat kampanye saja. "Ya targetnya yang bagus-bagus saja, misalnya.. tidak akan melakukan impor. Tapi pada prakteknya, justru impor besar-besaran," ujar RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

Selain itu menurutnya, program tersebut dilakukan guna mendapatkan dukungan politik. "Jadi.. mohon maaf, visi hanya alat kampanye, alat untuk mendapat dukungan politik, namun, strategi gak nyambung untuk mencapai tersebut," sambung Rizal.

Ia juga menyesalkan, adanya penunjukkan orang-orang yang melakukan eksekusi dalam pemerintah, yang justru merugikan negara. "Kan bisa kita lihat sendiri, penunjukkan personalia, hanya thank you note untuk yang memberikan dukungan politik, thank you note kepada yang nyumbang. Itu lah kenapa Indonesia sulit maju, walaupun paling kaya di Asia, tapi selalu jadi negara yang missed opportunity," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, mantan Menko Ekuin era presiden Gus Dur ini juga menyikapi apa yang terjadi dengan kondisi Badan Urusan Milik Negara (BUMN). "Untuk membuat BUMN ini untung, sebetulnya tidak sulit..hanya paduan antara visi dan misi saja," ungkapnya.

"Saya pernah menjabat sebagai kepala Bulog (Badan Urusan Logistik) dalam satu tahun untung bisa kita naikkan lima triliun, saya jadi preskom Semen Gresik selama dua tahun untungnya kita naikkan dari 800 miliar menjadi Rp3,2 triliun, BNI dalam satu tahun untungnya kita naiikan menjadi 80 %, dan paling tinggi, dari sebelumnya," imbuh mantan Menko Kemaritiman di Kabinet Indonesia Kerja Jokowi ini.

Adapun menurutnya, mengapa negara-negara asing bisa maju, karena adanya konsistensi antara visi dan implementasi dalam menjalankan sebuah negara. "Di Amerika, banyak yang gak suka Trump, tapi visinya akhirnya dijalankan untuk menjadikan Amerika sebagai negara yang kuat. Begitu juga dengan China, pemimpinnya itu dilatih dari sektor menengah hingga memiliki kemampuan pada saat menjadi top leader (pemimpin utama-red)," paparnya.

"Sementara di Indonesia.. mohon maaf, visinya hanya alat kampanye saja..strateginya justru terbalik dengan pidato (kampanye)," tegas mantan anggota tiim panel penasihat ekonomi PBB ini.

Adapun Rizal juga menyesalkan, bahwa money politic masih terus terjadi di Indonesia. "Saya mohon maaf.. yang menhancurkan ini semua adalah money politic. Makanya saya usulkan agar partai politik dibiayai oleh negara. Kita hentikan dan ubah kriminal demokrasi ini menjadi demokrasi yang amanah, sehingga negara bisa menghasilkan pemimpin yang baik.

"Tapi juga tidak bisa dibiayai oleh negara, sementara parpol juga dikelola bagaikan perusahaan keluarga. Kita teriak demokrasi tapi parpolnya tidak demokrasi. Jadi kalau dibiayain negera sebesar 6 triliun pertahun, AD-ART nya kita rubah. Sehingga siapapun masuk partai bisa menjadi ketua umum dan bisa menjalankan demokrasi dengan baik," tutupnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA