KPK Telusuri Korupsi Proyek Fiktif Waskita Karya

IS
Oleh Ivan Setyadhi
Selasa 25 Februari 2020
share
Plt Jubir KPK, Ali Fikri - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri dugaan uang korupsi terkait pengerjaan subkontraktor fiktif yang mengalir ke PT Waskita Karya.

Dugaan aliran uang itu didalami penyidik ke tiga saksi pegawai PT Waskita Karya yang diperiksa hari ini. Ketiganya yakni, Direktur Utama PT Waskita Transjawa Toll Road (WTTR), Sapto Santoso; Mantan Pegawai Divisi II PT Waskita Karya, Samsul Purba; dan Kepala Divisi Infra III Divisi II Waskita Karya, Aris Mujiono.

"Penyidik mendalami keterangan para saksi mengenai dugaan aliran dana dari para subkontraktor fiktif kepada PT Waskita," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri di kantornya, Selasa (25/2/2020).

Belakangan, KPK cukup intens memanggil serta memeriksa sejumlah saksi dalam perkara ini. KPK disinyalir sedang melakukan pengembangan serta mencari tersangka baru dalam kasus ini. Diduga, ada banyak pihak yang kercipratan uang panas pengerjaan fiktif proyek Waskita Karya ini.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan mantan Kepala Divisi (Kadiv) II PT Waskita Karya, Fathor Rachman (FR) serta mantan Kepala Bagian (Kabag) Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar (YAS) sebagai tersangka.

Kedua pejabat Waskita Karya tersebut diduga telah memperkaya diri sendiri, orang lain, ataupun korporasi, terkait proyek fiktif pada BUMN. Sedikitnya, ada 14 proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi oleh pejabat Waskita Karya. Proyek tersebut tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, dan Papua.

Fathor dan Ariandi diduga telah menunjuk empat perusahaan sub kontraktor untuk mengerjakan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikerjakan Waskita Karya.

Empat perusahaan sub kontraktor yang telah ditunjuk Ariandi dan Fathor tidak mengerjakan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. Namun, PT Waskita Karya tetap melakukan pembayaran terhadap empat perusahaan sub kontraktor tersebut.

Selanjutnya, perusahaan-perusahan sub-kontraktor tersebut menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya kepada sejumlah pihak termasuk yang kemudian diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.

Diduga, telah terjadi kerugian keuangan negara sekira Rp186 miliar. Perhitungan kerugian keuangan menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya epada perusahaan-perusahaan sub kontraktor pekerjaan fiktif. [adc]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA