BNPB Harap RI Jadi Laboratorium Manajemen Bencana

IN
Oleh inilahcom
Selasa 25 Februari 2020
share
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo berharap Indonesia menjadi laboratorium manajemen bencana baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pasalnya, Indonesia memiliki sejarah ragam bencana yang memberikan dampak baik korban jiwa dan harta benda yang luar biasa. Hal tersebut diutarakan saat soft launching Asia Disaster Management and Civil Protection and Conference (Adexco) di Graha BNPB, Jakata Timur.

"Kategori bencana dibagi dalam empat domain yaitu bencana geologi, hidrometeorologi I, hidrometeorologi II dan bencana non alam. Bencana hidrometeorologi yang pertama lebih pada kebakaran hutan dan lahan, sedangkan kedua menyangkut banjir, banjir bandang, longsor, abrasi, gelombang ekstrem, atau puting beliung," ujarnya.

Doni menyampaikan bahwa ada bukti bahwa tsunami telah ada sejak 7.500 tahun lalu yang dapat diketahui dari lapisan paleotsunami di gua Eek Leuntik, Aceh Besar. Menyikapi potensi yang terjadi ada, ia menawarkan upaya penanganan sebagai upaya pencegahan yang berbasis ekosistem.

Belajar dari tsunami Selat Sunda 2018 di wilayah Pandeglang, khususnya Tanjung lesung, masyarakat di pinggir pantai terselamatkan karena gugusan pohon yang menghambat terjangan tsunami. Mantan komandan Paspampres ini menyampaikan bahwa benteng alam terbaik yaitu vegetasi, seperti mangrove yang ditanam paling pinggir, cemara udang pada lapis kedua dan pule atau ketapang pada lapis ketiga.

Pada kesempatan itu, Doni berbagi mengenai salah satu jenis pohon yang sangat istimewa untuk banteng tsunami yaitu Palaka. Pohon yang istimewa ini karena penyemaian terjadi secara alami. Masyarakat Seram telah mengetahui bagaimana melakukan pembibitan setelah ada proses penyemaian. BNPB telah membibitkan sekitar 20.000 batang pohon Palaka.

"Pohon ini sudah setinggi 6 meter dalam 1 tahun. Kita selamatkan pohon ini sebagai banteng alam," jelasnya.

Pesan Doni yang sangat penting yaitu perlunya kita berpikir untuk ratusan tahun ke depan. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa Indonesia punya potensi bencana. Seperti gempa dan tsunami, BNPB mencatat 250 peristiwa terjadi dengan jumlah korban jiwa besar.

Sementara itu, bencana yang datang silih berganti itu sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dan juga negara lain di Asia, terkait mitigasi dan penanganan bencana. Paradigma tentang kebencanaan harus dipahami secara kolektif bahwa bencana merupakan urusan bersama, dengan peran aktif dari kelima unsur Pentaheliks (pemerintah, akademisi, lembaga usaha, komunitas, dan media massa).

Sehubungan dengan Adexco, BNPB dan Expoindo Kayanna Mandiri akan melaksanakan pameran konferensi terbesar di dunia terkait kebencanaan, yang merupakan upaya untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat solusi kebencanaan di kawasan Asia. Kegiatan yang mengusung tema Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita akan diikuti oleh 300 exhibitor dengan memamerkan hulu dan hilir industri kebencanaan. Mulai dari disaster alarm dan warning system, fire protection equipment, power device, CCTV, hingga emergency and rescue equipment. [ton]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA