KPK Gagal Tangkap Nurhadi Di Tulungagung

IS
Oleh Ivan Setyadi
Kamis 27 Februari 2020
share
Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri - (inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Tim Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gagal menangkap Eks Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono di rumah mertuanya, di Tulungagung, Jawa Timur.

"Memang informasi terakhir Tulungagung tidak mendapatkan para DPO (Nurhadi maupun Rezky Herbiyono)," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (26/2/2020).

Menurut Ali, setelah tim gagal mendapatkan Nurhadi di Tulungaggung, tim penindakan KPK kemudian kembali bergerak melakukan penggeledahan disejumlah tempat selanjutnya di Jawa Timur, hingga malam ini, untuk mencari keberadaan Nurhadi.

"Beberapa titik tempat di wilayah Jawa Timur Khususnya. Malam ini masih dilakukan penggeledahan ke tempat lain ke Surabaya ya. Dan tentu ini kelanjutannya seperti apa belum bisa kami sampaikan," tutup Ali

Kemarin, diketahui KPK turut menggeledah Kantor Hukum Rahmat Santosa and Partners di Surabaya, Jawa Timur.

Rahmat Santosa diketahui, adalah adik dari istri Nurhadi, Tin Zuraidah.

Adapun dalam penggeledahan KPK menyita sejumlah dokumen maupun alat komunikasi. Selain kantor hukum, ada sebuah rumah di Surabaya dilakukan penggeledahan oleh KPK.

Namun, Ali belum dapat menyampaikan.
Adapun barang yang disita oleh tim penindakan, diduga terkait kasus yang menyeret eks Sekretaris MA Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono dalam kasus suap dan gratifikasi perkara di MA Tahun 2011-2016.

Untuk diketahui, ketiga tersangka juga telah dicekal tidak boleh bepergian keluar negeri sebagaimana telah diminta oleh KPK kepada Direktorat Jenderal Imigrasi.

Masa berlaku pencegahan Nurhadi bersama dua tersangka lainnya itu terhitung sejak 12 Desember 2019 dan berlaku selama enam bulan ke depan.

Dalam perkara ini, Nurhadi dan menantunya Rezky diduga menerima suap dan gratifikasi dengan total Rp 46 miliar terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016. Mertua dan menantu itu diduga menerima uang dari dua pengurusan perkara perdata di MA.

Pertama, melibatkan PT Multicon Indrajaya Terminal melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero). Kemudian, terkait pengurusan perkara perdata sengketa saham di PT MIT dengan menerima Rp 33,1 miliar.

Adapun terkait gratifikasi, tersangka Nurhadi melalui menantunya Rezky dalam rentang Oktober 2014Agustus 2016 diduga menerima sejumlah uang dengan total sekitar Rp 12,9 miliar. Hal itu terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian. [fad]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA