DPR Minta Pemprov DKI Periksa Amdal PT SBI

IN
Oleh inilahcom
Kamis 27 Februari 2020
share
Politisi muda Nasdem, Ahmad Sahroni - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Politisi muda Nasdem, Ahmad Sahroni mendorong Pemprov DKI Jakarta melakukan uji analisis dampak lingkungan (amdal) proyek pembuatan beton readymix milik PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI).

Desakan ini terkait keluhan sekolah Nizamia Andalusia terhadap aktivitas proyek pembuatan beton readymix SBI. Sebelumnya, pihak SBI menyebut telah mengantongi izin dan telah melakukan sosialisasi kepada pihak sekolah terkait pembangunan pabrik beton curah atau batching plant di Jl Mabes Hankam, Cipayung, Jakarta Timur. Selain itu sosialisasi juga telah dilakukan kepada Kodam Jaya selaku pemilik lahan tersebut. "Pemprov DKI harus melakukan uji amdal di lapangan untuk memastikan kebenaran dari keluhan-keluhan yang dirasakan oleh masayarakat sekitar," tandas Sahroni, Jakarta, Rabu 26/2).

"Dalam kasus ini yang menjadi persoalan bukan pada sosialisasi sebelum pembangunan melainkan dampak yang disebabkan oleh aktivitas yang saat ini sedang berjalan," timpal Sahroni.

Ia menekankan, dampak buruk yang dirasakan masyarakat sekitar proyek SBI itu, termasuk sekolah Nizamia Andalusia, jangan dianggap sepele. Baik oleh PT SBI maupun Pemprov DKI.

Sebagaimana disampaikan pihak sekolah, aktivitas PT SBI ternyata berimplikasi pada turunnya kualitas udara, peningkatan kebisingan, penurunan kualitas air tanah, persoalan limbah padat dan limbah B3 yang berdampak pada kualitas masyarakat sekitar. "Poin-poin keluhan ini harus direspon oleh Pemprov DKI selaku pihak yang memberi izin lewat uji amdal di lapangan," ucap Sahroni.

Sahroni menjelaskan, jika nantinya uji amdal terbukti selaras dengan keluhan masyarakat, maka Pemprov DKI harus berani bersikap tegas. Segera batalkan izin operasi PT SBI atau solusi lain yang tidak merugikan masyarakat.

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Martin Manurung berpandangan sama. Dia minta cucu BUMN yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) mengkaji ulang lokasi pembuatan beton readymix (batching plant) itu.

Selain karena banyaknnya penolakan dari sejumlah kalangan, lokasi tersebut juga dinilai mengganggu aktifitas pendidikan yang ada di sekitar. Martin mengatakan, pendirian industri merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun kebijakan tata kota dan rencana tata ruang dan wilayah juga harus dipertimbangkan.

Diterangkannya, dalam menentukan lokasi industri terdapat sejumlah pertimbangan yang harus dilihat. Salah satunya adalah dampak lingkungan.
"Kebijakan tersebut diberikan agar industri juga melihat aspek lingkungan dan daerah yang ada agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan," terangnya.

Martin Manurung berencana akan menyempaikan langsung permasalahan ini kepada Semen Indonesia Group selaku holding company untuk menjadi perhatian serius, sebelum permasalahan ini terlampau jauh. "Kita akan tanyakan ini. Kita ingin BUMN kita tidak menjadi masalah di tengah-tengan masyarakat," pungkasnya.

Sebelumnya, Diah Sasanawati, Corporate Communications Manager SBI, menyatakan, SBI beserta seluruh anak usaha, berkomitmen menjalankan bisnis dan operasional perseroan dengan memastikan kesehatan dan keselamatan bagi karyawan, kontraktor, warga masyarakat di sekitar lingkungan operasional. Sehingga konsumen, dengan mematuhi seluruh peraturan dan hukum yang berlaku, serta manajemen lingkungan yang berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan pabrik beton curah atau Batching Plant milik Solusi Bangun Beton, anak usaha SBI yang berlokasi di Cipayung, Jakarta Timur, bekerja sama dan dibangun di atas lahan milik Kodam Jaya. Sebelumnya perusahaan juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar pada pertengahan bulan Februari 2020 yang dihadiri oleh perwakilan Kodam Jaya dan pihak sekolah serta memastikan perizinan yang didapatkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Saat ini, kata Anna, sapaan akrabnya, pembangunan batching plant di Cipayung masih berlangsung dan diproyeksikan akan selesai pada April 2020.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA