BI dan KAGAMA Sinergi Majukan UMKM

IN
Oleh inilahcom
Senin 02 Maret 2020
share
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung Agus Nompitu - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Selain meningkatkan kompetensi alumni, KAGAMA Inkubasi Bisnis VIII bertujuan untuk berbagi pengetahuan akan pentingnya brand di kalangan UMKM dan Pelaku Bisnis di Lampung.

Bekerja sama dengan Bank Indonesia Provinsi Lampung, PP KAGAMA menggelar acara KAGAMA Inkubasi Bisnis (KIB) dengan topik Smart Branding Untuk UMKM: Kiat Mengelola Brand dengan Memanfaatkan Media Sosial. Acara yang digelar di Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung ini menghadirkan narasumber pakar marketing, Yuswohady.

Acara ini mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakat Lampung, hadir sebagai peserta sebanyak 260 orang yang mengisi penuh semua kursi yang tersedia.

Ketua II PP KAGAMA, Bambang E. Marsono menyampaikan rasa senang karena bisa bekerja sama dengan BI. Bambang berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut khususnya dalam memperkuat UMKM.

"KAGAMA berkomitmen turut serta membangun SDM unggul salah satunya dengan bersinergi dan berkolaborasi dengan semua kalangan, khususnya dalam memperkuat UMKM," ujar alumnus Fakultas Teknik UGM ini.

Bambang menambahkan Program KAGAMA Inkubasi Bisnis merupakan program rutin KAGAMA yang telah berjalan sebanyak tujuh kali dengan memberi tip dan kiat praktis bisnis, diperuntukan bagi alumni UGM dan masyarakat umum.

"Selain dilaksanakan di Lampung, KIB juga dijadwalkan dilaksanakan di Palembang, Padang, Yogyakarta, dan kota-kota lain," ujarnya.

Ketua II PP KAGAMA ini juga berharap dengan diselenggarakannya acara ini dapat melahirkan dan menguatkan brand UMKM sesuai dengan produk usaha yang dihasilkan.

"Pelaku UMKM di era digitalisasi teknologi tidak bisa hanya memanfaatkan pemasaran konvensional saja. UMKM perlu melihat potensi yang ada di pasar digital agar UMKM dapat naik kelas," ujar Bambang.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Setyawan Budiharto, menyambut baik inisiatif dari KAGAMA, yang bersinergi bersama memberdayakan UMKM.

"BI mendorong inovasi dan pemasaran UMKM binaan maupun mitra melalui program yang mendorong terciptanya usaha kreatif yang mengangkat budaya daerah," ucap Setyawan.

Selain itu, BI juga mendorong pemasaran UMKM yang menjangkau seluruh dunia secara online, serta melakukan pengenalan platform digital yang menunjang kegiatan ekonomi UMKM. Pihaknya saat ini sedang menjalankan UMKM On Boarding, dalam hal ini UMKM berproses masuk ke merchant online dan menyesuaikan diri dengan mekanisme yang berlaku di lingkungan marketplace.

"Dengan UMKM on-boarding diharapkan dapat meningkatkan potensi pasar industri kreatif dengan sasaran kaum millenial dan dinamis," tandas Setyawan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung Agus Nompitu mengungkapkan, penting dilakukan pembentukan SDM dalam membangun "Smart Branding" di era digital.

Dia memaparkan, Lampung memiliki 168 ribu UMKM, dan aspek dominan yang dihadapi oleh pelaku UMKM berkaitan dengan permasalahan SDM.

"Kami sangat mendukung adanya "Smart Branding. Untuk meningkatkan kelas UMKM di era modern. Pelaku UMKM harus aktif mengembangkan produk serta pemasaran di pasar digital," tuturnya.

Sementara itu Yuswohadi dalam sesi utama mengatakan brand adalah apa yang membuat produk kita laku dan mendapatkan margin yang lebih tinggi. Karena itu Yuswo mendorong agar pelaku bisnis khususnya UMKM berjuang membangun kekuatan brand.

"Di era digitalisasi teknologi, membangun kekuatan brand atas sebuah produk usaha amat penting sebab saat ini telah terjadi perubahan konsumsi di masyarakat. Apalagi di kalangan generasi milenial pergeseran konsumsi masyarakat sangat terasa," ujarnya.

Pendiri perusahaan konsultan Inventure ini mengatakan dahulu pola konsumsi berdasarkan komoditas saat ini beralih menjadi konsumsi atas sebuah pengalaman, dan kenyamanan contohnya seperti menonton konser dan berwisata.

Perlu kejelian dan perumusan yang baik oleh pelaku UMKM guna memanfaatkan pasar potensial tersebut.

"Kelemahan UMKM pada umumnya mereka jualan komoditas. Padahal komoditas kopi misalnya per kilogram cuma sekitar 10 ribu tapi kalau pake brand bisa 40 ribu. Branding membuat produk UMKM lebih laku dan mendapatkan margin yang lebih tinggi," katanya.[jat]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA