Susut Lahan Pertanian, Bos HKTI Setuju Data BPS

IN
Oleh inilahcom
Jumat 13 Maret 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum HKTI, Moeldoko mengatakan, salah satu tantangan besar pertanian saat ini adalah menyangkut masalah ketersediaan lahan. Berapa besar luasan lahan pertanian yang susut di Indonesia?

Hal itu disampaikan Moeldoko dalam Pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2020 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3/2020). Menurut Moeldoko, secara makro sektor pertanian adalah penyumbang GDP terbesar di kawasan Asia dan menjadi bagian strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan Asia. Namun, seiring dengan perkembangan industri dan perubahan iklim, lahan pertanian di kawasan Asia terus menyusut.

Rural Development and Food Security Forum 2019 yang digelar Asian Development Bank (ADB) di Manila, Filipina, Oktober 2019, mengungkapkan lahan pertanian menyusut hingga 44 persen. Kondisi ini mengancam produksi pangan Asia.
Padahal ADB menyebut sebanyak 822 juta orang di muka bumi masih berada dalam kondisi tidak aman pangan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 517 juta orang (62,89%) berada di kawasan Asia dan Pasifik. Oleh karena itu ADB telah menetapkan pertanian dan ketahanan pangan menjadi salah satu dari tujuh prioritas operasionalnya hingga 2030 seiring dengan 17 tujuan SDGs (Sustainable Development Goals).

Mengutip data BPS, Moeldoko menyebutkan, penyusutan lahan di Indonesia, terjadi cukup signifikan setiap tahun. Hampir 120 ribu hektar lahan pertanian berubah fungsi setiap tahun.

Khusus Indonesia, selain penyusutan lahan kita memiliki lima persoalan pertanian lainnya. Pertama adalah pemilikan lahan petani yang rata-rata hanya 0,2 hektar dan kondisi tanah yang sudah rusak. Kedua, aspek permodalan. Ketiga, lemahnya manajemen petani. Keempat, minimnya penguasaan teknologi dan inovasi. Dan, kelima adalah penanganan pasca panen.

Moeldoko juga menyinggung kebiasaan umumnya petani yang sering latah dalam menanam. Mereka sering latah menanam tanaman yang sedang tinggi harganya di pasaran. Ini justru sering merugikan petani pada jangka panjang. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA