Harga Gas Industri Diturunkan, Beginilah Dampaknya

IH
Oleh Indra Hendriana
Kamis 19 Maret 2020
share
Direktur Executive Energi Watch, Mamit Setiawan - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga gas industri menjadi US$6 per MMbtu per 1 April 2020. Hal ini disampaikan Menteri ESDM Arifin Tasrif, kemarin.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Executive Energi Watch, Mamit Setiawan mengatakan, keputusan tersebut bakal berdampak kepada semua sektor. "Terkait dengan penurunan harga gas untuk industri sebesar 6$/MMbtu di plant gate konsumen saya kira ini akan berdampak pada semua sektor baik itu hulu dan midstream. Untuk sektor Hulu,sebagaimana yang diutarakan oleh Menteri ESDM tidak ada pemotongan dari K3S tapi pemotongan dari penerimaan negara," kata Mamit, Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Diketahui, salah satu penerimaan negara yang terbesar adalah PNBP Migas. Di mana, pada 2019 sebesar Rp115.1 triliun. Di tengah turunnya harga minyak dunia saat ini, dan penurunan penerimaan negara dari gas, maka target PNBP migas diprediksi sulit tercapai. "Target dalam APBN 2020 sebesar Rp 127.3 T akan sulit tercapai," kata dia.

Dia menyampaikan, dengan kondisi seperti ini SKK Migas harus melakukan pengawasan yang ketat kepada K3S untuk lebih bisa effiesien lagi dalam pelaksanaan operasional karena harga sedang turun dan pendapatan negara berkurang. Melalui effisiensi diharapkan bisa membantu pengurangan pendapatan pemerintah. "Tapi, jangan sampai juga pengetatan ini menggangu investasi di sektor migas karena kita sedang berusaha untuk meningkatan produksi kita," ujar dia.

Untuk sektor midstream, kata dia, adalah sektor yang paling terpukul dengan penurunan harga gas indutri ini. Kebijakan penurunan harga gas untuk Industri ini memukul PGN selaku industri midstream. "Untuk midstream ini saya kira yang akan paling berdampak. Jika Pemerintah menekan biaya distribusi dan transportasi turun menjadi 1,5-2 dolar AS per mmbtu akan sangat memberatkan industri midstream ini," ujar dia.

Ia menyampaikan, kebijakan tersebut berpotensi membuat PGN sebagai BUMN merugi. Hal ini dapat terjadi mengingat sebagai Badan Usana yang berniaga menggunakan infrastruktur, 95% biaya yang dikeluarkan PGN bersifat fix cost.

"Pembangunan pipa transmisi, distribusi, dan pembangunan terminal regasifikasi untuk LNG semua sudah dilakukan dengan investasi yang tidak sedikit, jadi penurunan biaya capex sudah tidak mungkin dilakukan. Biaya operasi dan pemeliharaan jaringan juga tidak bisa dipangkas begitu saja karena terkait kehandalan jaringan pipa dan aspek safety" lanjut Mamit.

Tidak hanya mengkhawatirkan kondisi yang bakal dialami PGN dalam waktu dekat, Mamit juga mengkhawatirkan nasib perngembangan industri midstream kedepan karena dianggap tidak menguntungkan lagi. "Padahal untuk mendukung optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik, kita masih butuh banyak sekali investasi di infrastruktur gas bumi. Saya masih belum melihat secara detail dari rencana Menteri ESDM untuk sektor midstream ini kedepannya akan seperti apa", ujarnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA