Polisi Amankan Mafia dengan Modus Jual Beli Tanah

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 Maret 2020
share
(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Aparat polisi menangkap penipu dengan modus jual beli tanah dengan kerugian mencapai Rp64 juta. Polisi menangkap pelaku seusai menerima laporan dari korban.

Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Jerry Siagian mengatakan, polisi terus mendalami kasus penipuan tersebut.

Perkara ini bermula saat korban bernama Maman mencari lahan kosong. Setelah survei, ditemukan lahan kosong seluas 6 hektar di kawasan Cakung, Jakarta Timur.Setelah beberapa kali survei, Maman memperoleh informasi dari warga sekitar bahwa pemilik lahan tersebut adalah Mardani.

"Itu hasil survei lapangan, orang-orang sekitar saya tanyain, termasuk orang yang garap tanah itu," kata korban, kepada wartawan, Kamis (19/3/2020).

Setelah mendapatkan nomor Mardani, korban langsung melakukan lobi-lobi untuk membeli tanah tersebut.

"Enggak sembarangan kita, namanya tanah di Jakarta kan nominalnya enggak bisa dibilang kecil, jadi kita juga hati-hati," ujarnya.

Kemudian, Mardani meminta untuk diberikan duit sebesar Rp100 juta dengan tipu muslihatnya. Kepada penyidik Mardani meminta duit Rp100 juta hanya untuk melihat surat-surat sebelum transaksi jual beli. Calon pembeli pun menyanggupi permintaan Mardani.

"Kita iyain, tapi dengan cara pembayaran bertahap. Kenapa? Biar kita bisa terus lobi-lobi dengan dia, jaga waktu untuk bisa terus kumpul informasi karena status tanahnya kan belum jelas. Jadi tidak kita bayarkan secara penuh," terang korban.

Uang yang sudah diterima Mardani total sebesar Rp64 juta yang sebagian dikirimkan ke rekening atas nama Noufal Hadyanto, anak kandung dari Mardani. Masing-masing transaksi sebesar Rp25 juta, Rp20 juta, Rp10 juta berupa tunai sewaktu pertemuan dengan Mardani.

"Sisanya itu saya pecah ke jumlah yang lebih kecil, satu juta-satu juta agar tetap bisa kontak dengan dia sampai informasi tentang tanah itu benar-benar jelas," ungkapnya.

Korban kemudian bertanya kepada Mardani mengenai status kepemilikan tanah, namun Mardani enggan menjelaskan. Mardani menilai tidak adanya keseriusan membeli tanah lantaran lambat dalam membayar duit Rp100 juta.

"Dia bilang, ngirimnya (duit) sedikit-sedikit, enggak serius ini mah," ujarnya.

Setelah itu, korban mendapat informasi jika tanah tersebut berstatus "girik garapan". Tanah tersebut diklaim milik almarhum ayah Mardani dan seorang rekannya.

"Dari itu kita dapat nama Haji Fauzi sebagai pemilik kedua. Jadi ayahnya Mardani dan ayahnya Haji Fauzi, dulu itu adalah penggarap tanah itu," kata Mardani.

Setelah mendapatkan informasi tersebut maka langsung dihubungi Haji Fauzi soal jual-beli tanah tersebut oleh si calon pembeli. Namun dengan tegas Haji Fauzi mengatakan bahwa tanah itu tidak dijual. Ia juga mengaku bahwa ia tidak pernah terima duit dari Mardani.

"Akhirnya kita minta pertanggungjawaban Mardani. Kita minta lihat surat-surat tanah itu. Tapi dia berkelit bahwa surat semuanya ada di Haji Fauzi sementara Haji Fauzi mengatakan bahwa dia tidak menjual tanah tersebut. Saya pikir, duh mafia ini," ujarnya.

Korban kemudian meminta Mardani untuk mengembalikan uang yang sudah diberikan atau menjual bagian tanah miliknya. Tapi alih-alih menyelesaikan masalah, Mardani justru hilang kabar. Pada 11 Oktober 2019, akhirnya dibuatlah laporan kepolisan.

"Akhirnya kami laporkan ke Polisi dengan modal saksi dan bukti-bukti yang kami punya sejak awal berhubungan dengan Mardani," tegasnya.

"Kami apresiasi polisi yang profesional dan tidak takut siapa beking/orang kuat yang ada di belakang pemain-pemain mafia tanah tersebut dan tetap berkomitmen memberantas mafia tanah sampai ke akar-akarnya," imbuhnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA