Program 10 Rumah Aman Mendapat Respons Positif

IN
Oleh inilahcom
Rabu 01 April 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Program yang digagas Kantor Staf Presiden (KSP) melalui Dasa Wisma 10 Rumah Aman mendapat respons positif masyarakat.

Saat ini sudah terbantuk 10 komunitas di berbagai wilayah dan akan segera diperluas sebagai embrio untuk sebuah kecamatan.

Kita mengujicoba kegiatan berbasis program Dasa Wisma dengan membangun partisipasi publik melawan corona," kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Moeldoko yakin partisipasi publik akan sangat membantu pemerintah mengatasi penyebaran COVID-19. Dalam program ini, publik membentuk komunitas berbasis daring secara aktif dan mandiri. Masyarakat yang terlibat, nanti akan mendapat supervisi dari relawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga Puskesmas terdekat.

Memanfaatkan Whatsapps Group (WAG), setiap kelompok terisi 30-40 kepala keluarga atau rumah. Program ini langsung mendapat respon masyarakat di Legok, Tangerang, Banten. Mereka membentuk mata rantai komunitas berbasis teknologi.

"Kami langsung bergerak begitu tahu ada program 10 Rumah Aman. Sebab, kami tahu bila program ini sangat bagus untuk memutus sebaran Covid-19. Sekarang lingkungan RT bisa terhubung kembali satu sama lain dengan arah yang jelas," kata Agus Heri Nugroho, selaku Ketua RT 3/9, Perum Legok Permai-Blok Flamboyan, Legok, Tangerang, Banten,.

Fungsi program pun berkembang. Dampak negatif Covid-19 secara ekonomi ikut diperhatikan. Secara gotong royong, mereka ikut mengumpulkan donasi logistik. Beragam bantuan ini akan disalurkan pada pihak yang membutuhkan di wilayah RT masing-masing. Pengumpulan dan pembagian donasinya dilakukan secara aman. Caranya, donasi logistik diletakan di depan rumah.

"Secara khusus kami menyambut baik program ini. Selain sosial, di situ ada aspek kemanusiaannya. Para warga yang kesulitan secara ekonomi karena Covid-19 akan dibantu secara gotong royong. Hal ini juga sudah mulai berjalan. Sembako dikumpulkan lalu diberikan kepada yang memerlukan," papar Yana selaku Ketua RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Melalui WAG, struktur kelompok ini juga terbentuk rapi. Selain ada ketuanya, kelompok ini menunjuk Petugas Dasa Wisma atau Karang Taruna. Mereka memastikan anggotanya #diRumahSaja dan rutin memonitor Suhu Tubuh setiap warganya. Informasi tersebut lalu dilaporkan kepada Ketua Kelompok melalui WAG. Dilakukan secara marathon, informasi itu lalu diteruskan kepada Ketua RT.

Warga secara mandiri terus mengantisipasi gejala paparan Covid-19. Sebut saja, kenaikan suhu badan di atas 37,5 derajat celcius. Tanda lain munculnya radang tenggorokan, batuk, sesak nafas dengan durasi 2 hari atau lebih. Muryanto, selaku Ketua RT.4/RW.9, Perum Legok Permai Blok Flamboyan, Legok, Kabupaten Tangerang, Banten mengatakan, masyarakat pro aktif terhadap himbauan pemerintah.

"Pada hakikatnya masyarakat selalu pro aktif terhadap beragam program pemerintah. Himbauan dari pemerintah selalu diikuti, termasuk 10 Rumah Aman ini. Secara rutin kami mengecek suhu tubuh dan mengenali potensi munculnya tanda-tanda Covid-19," kata Muryanto.

Untuk melindungi Petugas Ukur Suhu, beberapa perlengkapan perlindungan disiapkan. Mereka lalu mengenakan Masker dan Sarung Tangan. Selalu bersih, mereka selalu mencuci tangan atau disinfektan baik sebelum atau sesudah bertugas. Setiap informasi yang masuk selalu dicatat. Mereka juga tidak lupa membangun komunikasi dengan para tenaga medis di daerahnya hingga ambulans terdekat.

"Implementasi program 10 Rumah Aman ini berjalan bagus. Aktivitasnya berjalan normal dan tanpa kendala. Semua warga dimonitor dan datanya dicatat lalu diteruskan kepada lembaga terkait. Untuk alat perlindungan diri diberikan sesuai prosedur," tegas Adi Siswoyo, selaku Ketua RT 02/11, Komplek Permata Mansion Cluster Sapphire, Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

"Sosialisasi program langsung diteruskan kepada warga sejak awal. Potensi sebaran Covid-19 sejauh ini tetap terkendali dan dampak ekonominya bisa diatasi. Pengecekan suhu tubuh warga terus dilakukan. Sembako yang mulai terkumpul langsung didistribusikan. Seluruh warga sangat pro aktif," jelas Ketua RT.05/RW.01, Watukumpul, Pemalang, Jawa Tengah, Sudiarso.

Moeldoko pun optimistis, mata rantai sebaran Covid-19 akan cepat terputus dan lenyap di Indonesia. Satu sisi publik tetap mendapatkan jaminan kesejahteraan secara ekonomi secara gotong-royong. Apalagi, respon cepat dan penanganan terukur selalu diberikan pemerintah.

"Kami apresiasi atas kepedulian masyarakat memerangi Covid-19 di Indonesia. Semua elemen harus bersinergi. Dengan soliditas gotong royong seperti ini, kami yakin beragam problem Covid-19 akan cepat selesai sesuai skenario. Impact tekanan yang ditimbulkannya secara ekonomi juga bisa diatasi secara tuntas, kata Moeldoko.

Berikut 10 Langkah Mudah Melawan COVID-19

Pertama, melibatkan Ketua Rukun Tetangga (RT), penggiat Dasa Wisma, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan karang taruna di lingkungan RT. Kegiatan ini akan disupervisi relawan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun jika relawan BNPB dan Relawan BPBD belum terbentuk, bisa mengajak puskesmas terdekat sebagai supervisor program.

Selanjutnya kedua, akan dibentuk pula Whatsapps Group (WAG) untuk kelompok kecil sekitar 30-40 rumah dengan menunjuk seorang ketua kelompok. Melalui WAG, semua pihak dapat berdiskusi, mencari informasi dan solusi secara mandiri atau bersama-sama dalam memerangi virus corona di tingkat RT.

Ketiga, pada setiap kelompok akan ditunjuk petugas Dasa Wisma atau Karang Taruna sebagai petugas untuk memastikan warganya sudah melakukan kegiatan Di Rumah Saja. Kemudian, memonitor suhu tubuh warga setiap hari di masing-masing kelompok dan dilaporkan pada Ketua Kelompok melalui WAG.

Keempat, melalui WAG ketua kelompok melapor kepada Ketua RT bila ada warga diketahui suhu tubuhnya mencapai lebih dari 37,5 derajat disertai gejala lain, seperti radang tenggorokan, batuk dan sesak napas selama dua hari atau lebih.

Kelima, bila terpaksa melakukan kontak untuk melakukan pengukuran suhu tubuh, petugas ukur suhu bersama supervisor program, menggunakan masker dan sarung tangan atau selalu bersih dengan mencuci tangan atau disinfektan sebelum dan setelah melakukan pengukuran suhu tubuh warga selesai.

Selanjutnya keenam, mencatat dan membangun hubungan harmonis dengan tenaga medis dan ambulans yang terdekat dengan lingkungan RT.

Ketujuh, Ketua Kelompok juga harus memonitor dan mencatat warga yang berpotensi dan atau yang sudah tidak mampu lagi memiliki penghasilan harian serta kesulitan untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.

Langkah Kedelapan, ketua RT, tokoh masyarakat, dan tokoh agama bergotong-royong mengumpulkan bantuan logistik dari masyarakat untuk dibagikan ke wilayah RT masing-masing. Pembagian bantuan harus dengan cara AMAN, yaitu diletakkan di depan rumah penyumbang maupun di depan rumah yang akan menerima bantuan tanpa adanya kontak sama sekali.

Langkah kesembilan, sebagai simbol warga sudah saling terhubung akan ditempel stiker 10 Rumah AMAN .

Selanjutnya upaya Kesepuluh, warga yang terhubung, ketua kelompok, Ketua RT maupun supervisor Program 10 Rumah AMAN akan saling terhubung dan memberikan laporan secara kontinyu agar mudah terpantau secara nasional. Pelaporannya bisa lebih mudah melalui www.sepuluhrumahaman.id atau download aplikasi 10 rumah AMAN di google playstore. :

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.sepuluh.rumahaman&hl=en

Moeldoko berharap, melalui cara ini masyarakat akan berperan aktif untuk bersama menangkal penyebaran virus COVID-19. "Saya yakin masyarakat dengan kesadaran sendiri menjaga lingkungan dan keluarganya," tambah Moeldoko. [ton]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA