Diserang COVID19, GAPKI:Industri Sawit Masih Tegak

IN
Oleh inilahcom
Rabu 08 April 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pandemi Virus Corona jenis teranyar atau COVID-19, meluluhlantakkan sektor ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Namun, tentu saja masih ada sektor industri di tanah air yang masih bertahan. Apa itu?

Tak sedang bercanda, Ketua bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi menegaskan optimisme industri sawit di Indonesia, meski dibayangi pandemi COVID-19.

"Sejauh ini kami masih bussines as usual, karena kegiatan di kebun masih berjalan normal. Memang untuk pergerakan manusiannya menjadi lebih terbatas, tapi kami tetap melakukan upaya-upaya antisipatif dan pencegahan. Namun kami dari Gapki belum menerima laporan bahwa kegiatan produksi di kebun terganggu," papar Tofan dalam sebuah diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tofan mengatakan, berbagai proses produksi di perkebunan cenderung normal. "So far tidak ada laporan anggota Gapki yang proses produksi sampai berhenti atau melakukan lay off pekerjaannya di kebun," ungkapnya.

Sebagai manusia biasa, dirinya tetap menaruh harapan bahwa indutri sawit bisa tetap memberikan kontribusi yang baik bagi perekonomian nasional. Ketia industri-industri lain sudah banyak yang terpuruk, bisnis sawit diharapkan bisa tetap berdiri tegak.

"Rencananya kami akan melakukan jumpa pers secara online (video conference) dengan teman-teman media. Update mengenai data industry sawit nasional terkait dengan dampak covid-19, termasuk pasar ekspor. Seberapa besar ekspor ke India, RRC. Ketika wuhan terkena virus covid-19, memang ada penurunan ekspor sawit ke RRC," papar mantan wartawan senior Jawa Pos ini.

Dikatakan penulis buku Pena di Atas Langit ini, kondisi industri sawit di Malaysia sangatlah berbeda dengan Indonesia. Sehingga, Malaysia memilih lockdown yang berdampak kepada produksi sawit yang cenderung turun.

Dari sisi harga, kata Tofan, sempat mengalami koreksi. Di mana pada 2019 sempat anjlok signfikan. Kemudian pada Oktober-Desember mulai membaik. Harga terandah terjadi pada Juli sebesar US$560/ton. Selanjutnya pada Januari 2020 naik menjadi sekitar US$700-US$800 per ton.

"Kita bersyukur bahwa harga sawit sekitar 680-700 harga yang masih oke dari segi bisnis. Tidak terpengaruh turunnya harga minyak dunia. Dari segi harga, harga sawit tidak selalu parallel dengan harga minyak mentah. Kadang mengikuti, kadang trennya berbeda," paparnya.

Bagaimana kaitannya dengan terjun bebasnya harga minyak mentah dunia? Semisal saat ini, minyak mentah turun cukup drastis, sekitar US$20 per barel. Sementara karha sawit di tingkat petani masih di atas Rp1.000 hingga Rp1.300. "Masih cukup bagus, di tengah situasi sekarang ini. Kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman-teman di asosiasi, kalau permintaan di Cina sudah normal mereka akan beli besar-besaran," tuturnya.

"Pertanyaannya apakah proses pengiriman minyak (loadingnya) di pelabuhan dan lain sebagainya yang pakai berjalan normal? Itu juga mempengaruhi. Semua punya protokol, sehingga bisnis bisa berjalan as usual. Manurut saya pemerintah seharusnya sudah berfikir sampai ke sana," imbuh pria asal Pasuruan, Jawa Timur ini. [ipe]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA