Ulum Pasang Badan Buat Imam

Jaksa Buka Percakapan Kasus Hibah KONI

IS
Oleh Ivan Setyadhi
Kamis 09 April 2020
share
mantan Menpora Imam Nahrawi - (Foto: Inilahcom/Didik)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Bendahara Umum KONI Lina Nurhasanah menyebut Miftahul Ulum siap pasang badan agar mantan Menpora Imam Nahrawi tidak terjerat hukum.
Lina mengaku hal itu dia dengar langsung dari Ulum selaku asisten pribadi Imam, saat diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korpsi (KPK) pasca penangkapan terhadap Deputi IV Kemenpora, Mulyana terkait suap dana hibah Kemenpora kepada KONI.
"Waktu itu mas Ulum bilang, supaya kita tidak terlalu terbuka. Ini kan masih ada waktu 1x24 jam. Tenang saja nanti diselamatkan semua," kata Lina saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Imam Mahrawi di Pengadilan Tindak Tipikor Jakarta, Rabu (8/4/2020).
Lina menjelaskan, ketika diperiksa di ruang penyidikan KPK, Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy dan juga Miftahul Ulum turut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Mulyana.
Mereka diperiksa untuk dikonfrontir keterangannya secara bersama-sama dan ketika penyidik meninggalkan ruangan, barulah Ulum meminta mereka berbohong demi melindungi Imam.
Lina menyebut, awalnya Ulum meminta ketiganya agar tidak membocorkan semua informasi mengenai aliran duit kepada Imam Nahrawi.
"Lalu Pak hamidy sempet bilang, bahwa kita sudah terlanjur teken BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan bicara apa adanya," katanya.
Menanggapi hal itu, Ulum bersedia mengakui pemberian uang yang nominalnya kecil. Tapi tidak uang dengan jumlah besar.
"Lalu mas Ulum bilang untuk yang kecil-kecil akan diakui. Tapi kalau untuk yang besar-besar dan ATM sampai mati pun dia tidak akan mengakui. Dia akan mengelak bahasanya gitu," ungkap Lina.
Selanjutnya, JPU Ronald Worotikan membacakan BAP Lina nomor 66 yang menjelaskan bahwa Ulum siap pasang badan demi melindungi Imam Nahrawi.
"Saya tetap disini gak apa-apa yang penting dia lolos. Betul begitu?" tanya jaksa. Lina pun membenarkannya.
"Maksudnya dia lolos itu siapa?" tanya jaksa lagi. "Pak Imam," jawab Lina.
Kemudian, jaksa memutar isi rekaman video saat mereka berempat diperiksa di ruangan penyidik KPK. Dalam video itu ada percakapan yang terjadi diantara mereka.
Berikut isi percakapan.
HMY (Hamidy): Curhat ke Ulum kalau sudah sudah disuruh ngaku sudah ada foto-foto, rekam dll. Gimana kita mau bohong. Susah ini.
Ulum: Dulu awalnya kan kaya gini, yang penting intinya ga menerima. Aku akan ngelak, yang penting ATM. Saya akan ngelak ATM. Sisanya nanti akan diselamatkan. Tenang aja ini kan 1x24 jam.
Saya tetap disini gak apa-apa, yang penting dia lolos. Saya akan mengakui pernah menerima yanv 15an juta saya akui, 10 juta, 20 juta, yang gede-gede gak akan saya akui, sama ATM gak saya akui.
HMY: Tapi itu akan memberatkan semua
JHNY (Johny Awuy): Atm itu kan tapi diterima?
ULUM: ATM itu kan inisiasi bapak.
Saya cuma membantu administrasi. Saya akan tetap disitu sampai mati pun saya akan tetap disitu.
JHNY: Tapi faktanya ATM kamu terima juga kan?
ULUM: iyaaa..saya memang yang paling fatal itu ATM.
HMY: Johny dan Lina gak diiniin?
ULUM: Tidak. Yang penting bilang tidak. Hilang, pokoknya bilang gatau, gausah gugup, gausah apa. Untuk ATM itu bilang saja lupa, saya minta tolong itu aja. Nanti akan diselamatkan sama yang lain. Pokonya bilang aja gatau. Udah. Nanti aman pak. Apalagi ini kasusnya kan yg terakhir gak ada kickback. Mulyana yang di OTT ini. Saya hanya mengurus administrasi kalau proposal belum didisposisikan untuk segera dikomunikasikan gitu aja, yang lainnya nanti diselamatkan. Saya juga tidak lari, saya datang kesini.
LINA: Membahas bapak
ULUM: Saya akan jawab seperti itu, selain itu hanya fee, bukan fee bagian, dan itu tidak benar hanya 5 juta 10 juta saya mengakui itu, sisanya gak akan saya akui
HMY: Tapi kan memberatkan saya, memberatkan ini (menunjuk lina), berarti kita bohong dong.
ULUM: Tidak. [hpy]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA