Pasca Penurunan Harga Gas

Industri Hilir Migas Butuh Insentif Agar Tak Rugi

IH
Oleh Indra Hendriana
Jumat 17 April 2020
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah perlu memberikan insentif untuk badan usaha hilir minyak dan gas bumi (migas), agar tidak ada pihak yang dirugikan saat penurunan harga gas bumi menjadi US$6 per MMBTU diterapkan.

Anggota Komisi VI DPR, Gde Sumarjaya menyebutkan, penerapanpenurunan harga gas yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 harus tetap menjaga keekonomian, keberlanjutan usaha, aspek tata kelola, dan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku

"Komisi VI DPR RI akan meminta Kementerian BUMN untuk berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk mengevaluasi regulasi agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap deviden, penerimaan negara dari pajak serta pelaksanaan tanggung jawab sosial kepada masyarakat," kata Gde, yang menjadi Pimpinan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR bersama Kementerian BUMN secara virtual di Jakarta, Kamis (16/4/2020).

Anggota Komisi VI DPR, Herman Khaeron mengatakan, pemerintah mengandalkan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Pertamina, PLN dan PGN untuk memberikan stimulus perekonomian dalam menghadapi wabah virus corona baru (COVID-19). Seharusnya, pemerintah memberikan insentif agar perusahaan tersebut tetap stabil saat menghadapi terpaan wabah COVID-19. "Kalau pemerintah memberikan penugasan ini harus diberikan kompensasi, boleh ambil buahnya jangan tebang pohonya," ujar Herman.

Terkait stimulus penurunan harga gas, pemerintah telah menerbitkan peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang cara penetapan penggunaan dan harga gas bumi tertentu bidang industri.

Politisi Partai Demokrat ini memandang, pemerintah seharusnya melindungi PGN sebagai BUMN yang diandalkan dalam penyuran gas bumi dan membangun infrastrukturnya, terlibih perusahaan tersebut berstatus terbuka sehingga perlu kehati-hatian dalam menetapkan kebijakan terkait gas bumi, agar tidak mebuat harga saham turun, investor tidak lari dan berujung pada kerugian.
"Ini harus kita membuat proteksi karena mereka harus untung. Kita harus back up agar merek tetap survive," tuturnya.

Anggota Komisi VI DPR, Nyat Kadir menambahkan, penerapan penurunan harga gas bumi menjadi USD6 per MMBTU harusnya memikirkan ke ekonomian pembangunan infrastruktur gas, sebab dengan kondisi geografis Indonesa yang beragam membutuhkan investasi besar untuk melaksanakannya.

"Ada kebijakan permen, yang terus ditekankan oleh bapak presiden mulai Maret sudah 6 MMBTU apakah itu jalan. Kalau itu jalan apakah masuk secara ke ekonomian di Indonesia ini, dengan geografis, pasang peralatan transmisi pulau dan macam-macam, hambatan geografis lah," tuturnya.

Untuk menurunkan harga gas menjadi UD$ 6 per MMBTU pemerintah menurunkan harga gas di hulu menjadi US$ 4-4,5 dan biaya distribusi menjadi US$ 1,5-2 per MMBTU.

Dalam forum yang sama, Direktur Utama PGN Gigih Prakoso menyampaikan, keekonomian biaya penyuran gas yang dilakukan PGN sebagian masih UD$ 2,6-3,2 per MMBTU, dengan diterapkannya penurunan harga gas menjadi US$ 6 per MMBTU akan berdampak pada penurunan pendapatan dan laba Usaha, bahkan berisikio kerugian.

Sebab itu Gigih berharap pemerintah memberikan insentif untuk menjaga keuangan perusahaan tetap sehat, saat penurunan harga gas diterapkan. "Sesuai Permen 08 tahun 2020 sebenarnya sudah diputuskan akan ada insetif kepada badan usaha untuk di sektor hilir namun belum ada pendalaman mekanisme ini, kami membutuhkan dukungan pemerintah, para anggota komisi VI, bagaimana dengan mekaniske insetif ini karena jika tidak clear sulit mempertahankan keekonomian jika harga harus US$6 per MMBTU," tutupnya. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA