Defisit Transaksi Berjalan Triwulan I Lebih Rendah

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 18 April 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) pada triwulan I-2020 tidak sampai 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), karena dipengaruhi wabah COVID-19.

"Ini jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2,5-3 persen PDB," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers daring di Jakarta, Jumat (17/4/2020).

Perry mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan US$743 juta pada Maret 2020. Dan, selama triwulan I-2020 mencapai US$2,62 miliar. AS.

Meski surplus, namun kegiatan ekonomi tidak begitu signifikan. Karena terganggunya ekspor dan impor, yang menjadi faktor pendorong pertama rendahnya CAD pada triwulan pertama ini.

Menurut dia, penurunan impor lebih besar dibandingkan ekspor, karena kegiatan produksi di dalam negeri terganggu wabah Virus Corona jenis baru (COVID-19). Begitu juga dengan ekspor, kata dia, juga melesu karena permintaan dunia yang menurun dan harga komoditas yang anjlok pada periode COVID-19.

Faktor kedua, lanjut dia, karena impor yang merosot tajam, keperluan devisa untuk membayar transportasi dan asuransi impor juga menurun. Kondisi ini mengakibatkan neraca jasa untu biaya angkut transportasi juga mengalami defisit yang lebih rendah.

Faktor ketiga, ucap Perry, disebabkan sektor pariwisata lesu sehingga mengakibatkan perolehan devisa juga lebih rendah, baik yang disumbang kedatangan turis asing maupun WNI yang bepergian ke luar negeri termasuk untuk keperluan umroh.

BI memperkirakan, triwulan I-2020, devisa yang turun dari turis yang masuk mencapai US$2 miliar dan WNI yang keluar negeri. Sedangkan, penurunan penggunaan devisa wisatawan dari Indonesia yang ke luar negeri atau umroh karena adanya pembatasan mobilitas akibat COVID-19 diperkirakan mencapai sekitar US$1,6 miliar. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA