Rizal Ramli dan PKS Menolak

Banggar DPR Usul Cetak Uang Besar-besaran,Ada Apa?

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 02 Mei 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Di tengah pandemi COVID-19, muncul usulan agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang dalam jumlah luar biasa yakni Rp600 triliun. Alasannya, pemerintahan Joko Widodo perlu dana besar untuk membiayai sejumlah agenda.

Namun, gagasan yang muncul dari Badan Anggaran (Banggar) DPR itu, langsung dikritik keras ekonom senior Rizal Ramli. Kata dia, usulan tersebut jelas tidak belajar dari sejarah. Banyak penyelewengan keuangan ketika dilakukan pencetakan uang secvara vesar-besaran.

Selain itu, cetak uang dalam jumlah gede atau istilahnya kebijakan yang micro pumping, saat ini, lebih banyak mudharatnya. Di tengah morat-maritnya perekonomian di era Jokowi, tidak pas kalau BI mencetak uang besar-besaran.

"Amerika dan Jepang misalnya, mereka kuat secara ekonomi, jadi sah-sah aja mau melakukan macro pumping. Kalau kita (RI) mau ikut gaya yang sama. jangan mimpi!, ini bisa jadi sumber bancakan baru seperti yang pernah terjadi, yakni Skandal BLBI, dimana saat itu recovery hanya sebesar 25%. Kalau begitu nanti siapa yang mau tanggung jawab,," papar RR, sapaan akrabnya.

Selanjutnya, mantan Menko Kemaritiman di Kabinet Indonesia Kerja besutan Jokowi ini, menyebut skandal Bank Century. Kebijakan cetak uang jumbo dikhawatirkan melahirkan morald hazard berupa penggarongan uang negara secara besar-besaran.

"Mengapa yang dikucurkan Bank Indonesia untuk Bank Century mencapai Rp 6,7 triliun. Pasti ada yang bocor. Padahal, pengalaman di seluruh dunia memperlihatkan bahwa untuk menyelamatkan sebuah bank hanya diperlukan satu hari, yakni hari dimana dana pihak ketiga ditutup. Tetapi dalam kasus Bank Century, dana talangan yang diberikan diecel-ecel (dicicil) selama delapan sampai sembilan bulan," sebut Rizal.

Ia menambahkan, jika Bank Indonesia (BI) akhirnya menyetujui usulan cetak uang Rp600 triliun, maka tak heran, masalah yang sama akan terjadi. "Polanya sama, caranya sama, pelakunya juga sama, pasti itu-itu juga, gak belajar dari kesalahan. Nanti cetak uang via Recovery Bond 600T yg baru disetujui DPR, akan jadi skandal lebih vulgar dari BLBI dan Century. Pelakunya itu2 lagi (residivists)," tutup Rizal.

Sekedar mengingatkan, Banggar DPR sempat mendorong pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp600 triliun. Alasannya untuk menyelamatkan ekonomi dari dampak virus Corona (COVID-19).

Hal itu disampaikan Ketua Banggar, Said Abdullah bahwa besarnya kebutuhan pembiayaan yang diperlukan pemerintah dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 kurang mencukupi.

"Kemudian, semakin membesarnya kebutuhan pembiayaan APBN yang tidak mudah ditopang dari pembiayaan utang melalui skema global bond, maupun pinjaman internasional melalui berbagai lembaga keuangan," kata Said yang juga politisi PDIP ini.

Sementara itu, Fraksi PKS kompak untuk menolak usulan cetak uang gede yang diinisiasi Banggar DPR itu. Hal ini diungkapkan oleh Hidayat Nur wahid, dimana menurutnya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menolak usul tersebut.

Hidayat, yang merupakan anggota DPR senior asal PKS itu, menuliskan cuitannya di akun twitter pribadinya, @hnurwahid, kemudian me-mention akun twitter Rizal Ramli dengan ungkapan sepakat.

"Desakan Agar BI Mencetak Uang (rp 600 T)Itu Berbahaya, Bisa Hadirkan Hyper inflasi. Karenanya, @FPKSDPRRI menolak Usul Tsb. Kritik&Penolakan PKS Sudah Disampaikan Langsung Saat Raker Komisi XI DPR dengan MenKeu dan Gub BI dll. Cc @RamliRizal," tulisnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA