Antisipasi Karhutla, Ada Kabar Baik Industri Sawit

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 09 Mei 2020
share
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Ada kabar bagus dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkait keseriusan industri sawit dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Apa itu?

Ya, kabar baik itu adalah pengakuan dari KLHK bahwa penanganan dan pencegahan karhutla oleh perusahan hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan sawit di lahan gambut semakin baik.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Karliansyah menyatakan, bila semua disiplin dalam mengelola Titik Muka Air Tanah (TMAT) maka luasan kebakaran gambut bisa diminalisir dan hingga kini tercatat 3,47 juta hektare gambut rusak berhasil dipulihkan.

Dia menilai, tingkat kesiapan perusahaan perkebunan kelapa sawit dan HTI dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut pada tahun ini sudah sangat tinggi.

Perusahaan telah melakukan pemulihan ekosistem gambut dan sudah menetapkan titik pemantauan tinggi muka tanahnya, telah menjaga tinggi muka air tanah dengan membangun infrastruktur pembasahan, mengukur tinggi muka air tanah secara rutin setiap dua minggu sekali, dam kemudian melaporkan hasil pengukuran ke KLHK.

Dia menjelaskan, dalam mengantisipasi kebakaran dan menghadapi musim kemarau tahun ini, kementerian telah mengirimkan Surat Edaran Menteri LHK No. SE.2/2020 Tentang Antisipasi Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla Tahun 2020.

Kanalisasi Lahan Gambut
Selain mengirimkan surat edaran, KLHK juga melakukan pemantauan kinerja tata
kelola air dari data tinggi muka air tanah pada titik pemantauan di lahan konsesi dari masing-masing perusahaan. "Dari sistem pemantauan yang dibangun dapat dihitung tinggi muka air rata-rata pada Kuartal I Tahun 2020 adalah -0,46 meter," kata Karliansyah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dijelaskan Dirjen P2KL ini, dalam pemantauan, pihaknya tidak memfokuskan pada satu atau dua daerah rawan, melain perhatian tertuju pada semua lokasi.

Di dalam pengawasan ini, semua lokasi yang menjadi konsesi terus dipantau. "Semua kelompok usaha yang bekerja pada Ekosistem Gambut yang menjadi perhatian," tuturnya.

Mengapa demikian, karena khusus gambut, memiliki tingkat kerawanan kebakaran lebih tinggi dari pada lahan mineral. Namun, di lapangan semua lokasi, apakah itu gambut atau mineral, tetap harus mendapat perhatian serius.

"Semua tetap harus meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau, terutama bagi perusahaan yang data tinggi muka air tanahnya rendah, dengan intensitas hujan rendah. Terhadap perusahaan tetap, kita ingatkan ketat menjaga tata kelola air serta lebih meningkatkan kewaspasdaan," paparnya.

Dari berbagai upaya ini Karliansyah berharap, mampu menjaga tata kelola air di lahan gambut agar tetap basah dan para pemangku kepentingan, terutama mereka di lapangan untuk siap lebih awal.

Untuk mendukung aktivitas di lapangan, KLHK telah mengolah dan menyiapkan data area-area yang berpotensi mengalami kekeringan dan data tersebut bisa dipakai untuk memandu tim dilapangan agar bisa segera bergerak melakukan antisipasi.

"Kita juga meminta keterlibatan swasta dalam melakukan sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar bagi masyarakat di area sekitar usaha, serta menyiapkan sarana prasarana pemadaman yang cukup," kata Dirjen alumni Universitas Indonesia itu.

Dengan tingkat kesiapan yang sudah dilakukan, dan terus dilakukan pemantauan terhadap kelembaban gambut menggunakan peta satelit maupun hasil ground check yang hasilnya disampaikan ke provinsi maupun kabupaten/kota sebagai dasar kesiagaan pencegahan kebakaran hutan.

Tahun lalu, merujuk rekapitulasi yang disampaikan BNPB, luas Karhutla hingga 18 Desember, mencapai 942 ribu hektar. Terluas di lahan mineral 672,7 ribu hektar dan sisanya 269,7 ribu hektar lahan gambut. Menyinggung data luasan gambut di areal usaha yang berhasil dipulihkan hingga kini telah mencapai 3,47 juta hektar. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA