Banjir Mengancam, Kementan Ajak Maksimalkan AUTP

IN
Oleh inilahcom
Kamis 28 Mei 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Bahaya banjir mulai mengancam sejumlah daerah di Tanah Air, di antaranya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dan di Luwu Utara. Bencana ini juga mengancam sektor pertanian karena bisa menyebabkan gagal panen. Kementerian Pertanian mengantisipasinya dengan akan memaksimalkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bencana banjir yang mengancam pertanian ini bisa disebabkan sejumlah hal. Seperti tingginya curah hujan hingga jebolnya tanggul.

"Tidak ada yang bisa memprediksi kondisi ini. Apalagi untuk curah hujan yang ditentukan alam. Namun, kita bisa mengantisipasinya, atau meminimalisir kerugian yang mungkin didapat para petani. Caranya dengan memanfaatkan AUTP," tutur Menteri SYL, Rabu (27/05/2020).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, memberikan penjelasan mengenai program tersebut. Menurutnya, AUTP adalah program yang bisa dimanfaatkan petani untuk mengantisipasi kondisi seperti banjir, perubahan cuaca, atau serangan hama dan lainnya.

"Sesuai namanya, AUTP adalah asuransi. AUTP sangat penting buat petani. Sebab, jika terjadi kegagalan panen, petani justru akan mendapatkan ganti rugi. Klaimnya bisa disesuaikan. Jika berdasarkan polis, klaim akan diperoleh jika intensitas kerusakan mencapai 75% berdasarkan luas petak alami tanaman padi. Pembayaran klaim untuk luas lahan satu hektare sebesar enam juta rupiah," terangnya.

Sarwo Edhy berharap petani bisa mempelajari dan memahami AUTP. Info lebih lanjut mengenai program ini bisa didapat dengan bergabung dalam kelompok tani. "Mengingat cuaca yang tidak menentu, kami terus dorong petani mengasuransikan lahannya sebelum tanam. Ini agar lebih aman dan nyaman dalam usaha taninya," kata Sarwo.

Bencana banjir yang terjadi di areal persawahan ini disebabkan hal yang berbeda. Di Desa Ujungmanik, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, puluhan terendam banjir akibat jebolnya tanggul penahanan air asin dari laguna Segara Anakan.

Banjir air asin tersebut menggenangi 40 rumah warga di lingkungan RT 04 RW 02, Dusun Banjursari, Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, dengan ketinggian air di jalan berkisar 30-40 centimeter. Banjir air asin tersebut juga menggenangi tanaman padi siap panen seluas 25 hektare dengan tinggi genangan berkisar 60-70 centimeter.

Sementara di Luwu Utara, sebanyak 23 desa di enam kecamatan dilanda banjir akibat curah hujan tinggi di hulu sungai. Kondisi ini bertepatan dengan air pasang di muara, sehingga membuat air sungai meluap ke pemukiman. Sejumlah tanggu pun jebol.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Luwu Utara, menyebut sebanyak 1.673 unit lebih rumah terendam banjir. Daerah yang kena banjir bandang berada di Kecamatan Malangke dan sebagian Kecamatan Baebunta Selatan. Sementara daerah yang banjir akibat tanggul jebol di Sungai Rongkong berada di Kecamatan Malangke Barat, Kecamatan Baebunta, sebagian Kecamatan Baebunta Selatan, Sabbang, dan Sabbang Selatan.

Tidak hanya rumah, banjir juga menyebabkan lahan tambak, kebun jagung, kebun kakao, dan persawahan warga terendam banjir. Banjir juga melanda Desa Limbong Wara, Wara, Cenning, Kalitata, Waelawi, dan Pengkajoang.

Banyak petani terancam gagal panen. Lantaran dua tanggul Sungai Rongkong Desa Wara jebol. Satu sepanjang 150 meter dan tanggul satunya jebol sepanjang 20 meter. [*/psp]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA