Jelang New Normal, Industri Sawit Siapkan Ini

IN
Oleh inilahcom
Rabu 03 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Memasuki tatanan normal baru (new normal), industri sawit turut bersiap dengan menerapkan protokol ketat di seluruh lini bisnis perkebunan sawit.

"Dukungan teknologi dan inovasi pada industri kelapa sawit sangat diperlukan untuk penataan baru dalam sistem management, baik ada pandemi maupun tidak adanya pandemi. Menghadapi pandemi COVID-19, digitalisasi bisa meminimalisir kontak serta meningkatkan efisiensi tenaga kerja," ungkap Kacuk Sumarto, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada webminar yang dilaksanakan GAPKI bertema New Normal Perkebunan Sawit Pasca Pandemi COVID-19, Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, kata dia, mengancam kesehatan, ekonomi bahkan kondisi sosial masyarakat. Sementara industri sawit mampu berjalan normal, dikarenakan produknya sudah menjadi kebutuhan utama, sebagai minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi secara global.

Untuk itu, digitalisasi menjadi solusi bagi pelaku bisnis sawit untuk tetap menjalankan kegiatan operasional perkebunan secara normal. "Protokol kesehatan menjadi aspek utama dalam menghadapi pandemi COVID-19. Sementara, mekanisasi yang didukung dengan innovasi dan teknologi bisa menjadi pilihan untuk meminimalkan kontak sumber daya manusia sehingga terjadi efisiensi penggunaan tenaga kerja," tambah Dr Winarma, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Winarma menuturkan, pentingnya penyesuaian sistem dan norma yang diimplementasikan mulai dari proses pembibitan, perawatan hingga panen. Ia mengklasifikasikan hal yang dapat diterapkan dalam operasional kebun diantaranya pertama, menetapkan ancak tetap bagi setiap tenaga kerja sehingga mengurangi kontak dan mobilisasi tenaga kerja dalam proses operasional. Kedua, norma pemeliharaan sistem panen menggunakan sistem rotasi.

Ketiga, tenaga kerja harus dilengkapi dengan alat pelindung diri serta peralatan kerja masing-masing dan tidak saling bertukar alat. Keempat, menerapkan mekanisasi pupuk sehingga dapat mengurangi tenaga kerja. Serta menerapkan "smart farming" yang didukung oleh innovasi dan teknologi seperti mekanisasi pemeliharaan, pemupukan serta panen. Pemetaan, monitoring serta analisa visual dapat memanfaatkan inovasi digital yang mendukung mekanisasi yang terintegrasi. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA