Survei ILO:2 dari 3 Perusahaan Tutup karena Corona

IN
Oleh inilahcom
Kamis 04 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Program mengenai Kesinambungan Daya Saing dan Tanggung Jawab Perusahan (SCORE)-International Labour Organization (ILO) Indonesia melakukan survei atas dampak Covid-19 terhadap perusahan dan UMKM. Apa hasilnya?

Manajer Proyek SCORE-International Labour Organization (ILO) Indonesia, Januar Rustandie menjelaskan, survei dilakukan terhadap 571 perusahaan pada April 2020.

"Hasil survei menunjukan kesulitan yang belum pernah dihadapi perusahaan sebelumnya akibat pandemi, yaitu dua dari tiga perusahan yang disurvei menghentikan operasinya baik secara sementara maupun permanen," ucapnya lewat diskusi daring, Rabu (3/6/2020).

Menurutnya, pendapatan perusahaan menurun drastis. Lebih dari seperempat perusahaan yang disurvei dilaporkan kehilangan lebih dari setengah pendapatan mereka.

Tiga persen dari perusahaan yang disurvei menghentikan usaha mereka secara permanen, dengan perusahaan- perusahaan kecil menanggung beban krisis yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang lebih besar. Pendapatan perusahaan anjlok dan 90 persen melaporkan masalah arus kas.

Sekitar 52% perusahaan kehilangan pendapatan hingga lebih dari 50%. Prioritas utama UMKM dalam bantuan pemerintah adalah berfokus pada akses ke keuangan dan penangguhan pembayaran, seperti tagihan utilitas, premi jaminan sosial dan pajak.

Sementara, sebanyak 63% perusahaan yang disurvei telah mengurangi jumlah pekerja dan lebih banyak perusahaan berencana melakukan hal yang sama. Jutaan pekerja Indonesia mengambil cuti atau mengalami pemberhentian kerja sementara.

"Jumlah pekerjaan yang berisiko terus bertambah akibat perusahaan melakukan pengurangan atau menutup kegiatan usaha. Saat ini perusahaan juga melakukan berbagai upaya untuk bertahan," ujarnya.

Dia menjelaskan sekitar sepertiga usaha mencoba untuk bertahan dengan beralih ke usaha daring. Satu dari lima perusahaan melakukan diversifikasi produk guna merespons kebutuhan baru seperti masker dan sanitasi.

Namun, wabah Covid-19 menghambat keberlanjutan usaha mengingat perusahaan menghadapi kekurangan pasokan dan material serta kesulitan dalam mengirimkan produk jadi.

Selain itu, seperempat dari perusahan tidak memiliki jumlah pekerja yang memadai untuk menjalankan operasi usaha, akibat adanya pembatasan dalam beraktivitas. "Belum siap untuk beroperasi kembali mengingat perekonomian tentunya akan kembali beroperasi, perlindungan pekerja menjadi hal yang mendesak," jelasnya.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA