Korban Investasi Bodong Polisikan Dirut ini

IN
Oleh inilahcom
Jumat 05 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Belasan warga DKI Jakarta korban dugaan penipuan, penggelapan, tindak pidana perbankan, tindak pidana pasar modal, dan pencucian uang melaporkan Direksi PT OSO Sekuritas Indonesia kepada Polda Metro Jaya, Kamis (4/6/2020).

Belasan masyarakat korban investasi bodong itu menderita kerugian mencapai lebih kurang Rp40 miliar.

Sesuai Laporan Polisi (LP) Nomor 3161 / VI / YAN 2.5/ 2020 / SPKT PMJ, tanggal 4 Juni 2020, dengan pelapor Victory dari LQ Indonesia Lawfirm.

Menurut Advokat Alvin Lim, SH, MSc, CFP, para korban yang melapor adalah nasabah yang menyetorkan dana ke rekening PT. OSO Sekuritas Indonesia untuk membeli Repo Totalindo,Tbk.

Laporan ditujukan terhadap para direksi dan marketing PT OSO Sekuritas Indonesia, termasuk Hamdriyanto, selaku Dirut, sesuai Company Profile Dirjen AHU pada saat terjadinya peristiwa tindak pidana.

Salah seorang korban berinisial Y, mengatakan merasa tertipu mentah-mentah.

"Bulan November saya mendengar RSO selaku pemilik PT OSO Sekuritas Indonesia bertutur tentang bagusnya perusahaan di mana asetnya mencapai Rp50 miliar, akan menjadi puluhan triliun. Kenyataannya tak sampai satu bulan malah dana tidak bisa ditarik alias gagal bayar. Dalam logika yang sederhana, selaku pengendali perseroan, RSO tidak mungkin tidak mengetahui perusahaan anjlok dalam tempo satu bulan." ujarnya.

Beberapa korban lainnya, R dan H menjelaskan "Pada awalnya kami ingin menempuh jalur PKPU melalui Lawfirm lain. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan RSO, bahwa tandatangannya dipalsukan, dan menganjurkan nasabah yang ingin dibayar sebaiknya ikut PKPU.

Mereka curiga adanya agenda terselubung dibalik anjuran untuk ikut PKPU. Sangat tidak masuk akal seorang sekaliber RSO, selama bertahun-tahun, tandatangannya dipalsukan oleh orang lain tidak melaporkan ke Polisi. Saran ke PKPU hanya akal-akalan mengiring para korban ke dalam skenario seolah-olah ada itikad baik dari perusahaan.

"Oleh karena itu kami memutuskan mencabut keikutsertaan di PKPU, lalu memilih lapor pemidanaan dengan memberi kuasa keada LQ Lawfirm Indonesia. Setelah mencermati kesungguhan dan kegigihan pengacara Alvin Lim dalam membela kepentingan kliennya. Total Korban sesungguhnya ada 5000 lebih dengan kerugian 8 Triliun dari data yang diperoleh pada saat PKPU." ujarnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA