Kelola Pungutan Sawit, Apkasindo Apresiasi BPDP-KS

IN
Oleh inilahcom
Jumat 05 Juni 2020
share
Ketum DPP Apkasindo Gulat Manurung bersama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

INILAHCOM, Jakarta - Tata kelola pungutan ekspor sawit oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) mendapat apresiasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo).

Menurut Gulat Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo, Jakarta, Jumat (5/6/2020), pungutan ekspor sawit yang ditangani BPDP-KS, efektif membantu peremajaan sawit serta pengembangan sumber daya manusia (SDM). Di mana, petani sawit merasa sangat terbantu dengan kemudahan serta komitmen lembaga yang dipimpin Eddy Abdurrahman ini.

Apalagi, lanjut Gulat, BPDP-KS baru saja mengalokasikan dana Rp2,7 triliun untuk pengembangan di sektor hulu yang mencakup peremajaan, sarana dan prasarana, serta pembinaan sumber daya manusia di sektor sawit.

"Dana pungutan sangat bermanfaat untuk petani sawit. Saya ingin sampaikan bahwa petani sawit justru mensyukuri manfaat dana pungutan ekspor. Kalau ada yang berseberangan pendapat dengan kami, mungkin bersumber dari orang yang bukan petani sawit sehingga tidak merasakan manfaatnya," ujar Gulat.

Dalam kenyatannya, kata Gulat, pungutan ekspor berdampak signifikan terhadap harga tandan buah segar (TBS) sawit. Dari perhitungan asosiasi, diskon yang diterima antara Rp90-Rp 110 per kilogram TBS untuk setiap pungutan US$50 per ton minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

"Tapi petani tidak keberatan sepanjang dana tersebut dipergunakan kembali untuk membangun sektor kelapa sawit. Dan petani sawit sangat merasakan manfaatnya. Walaupun Indonesia terlambat mendirikan BPDP-KS dari Malaysia yang sudah puluhan tahun lalu mendirikan lembaga serupa. Tetapi, ini sudah kemajuan besar untuk bangsa," tuturnya.

Kata dia, bea siswa yang dikelola BPDP-KS dari dana pungutan sawit, efektif membantu anak petani dan buruh sawit melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Saat ini, terdapat 1.200 alumni Program D1 Sawit yang sudah tamat. Taruna Sawit Indonesia ini mendapatkan pendidikan di 5 perguruan tinggi terbaik bidang sawit. Tahun ini, jumlah perguruan tingginya bertambah menjadi 6 kampus.

"Mereka (Taruna) ini anak-anak petani dan buruh tani yang dibiayai full beasiswa BPDP-KS. Mereka tidak punya kesempatan dan peluang jika bersaing di kampus-kampus umum karena berbagai faktor. Belum lagi yang masih sedang proses kuliah sekitar 1000-an anak," papar Gulat.

Informasi saja, BPDP-KS terus menggencarkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bagi perkebunan petani. Baru-baru ini, dana PSR dinaikkan Rp5 juta menjadi Rp30 juta per hektar. Kenaikan ini sangat membantu petani sawit dalam menjalankan peremajaan sawit atau replanting. "Kami apreasiasi perhatian Kementerian Keuangan melalui BPDP-KS yang menaikkan dana hibah, apalagi di masa Pandemi Covid-19 ini, sangat memberi harapan baru masa depan sawit petani yang sudah memasuki generasi ke 2," jelasnya.

Selain itu, kata Gulat, dukungan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian sangatlah terasa yang mewujudkan kebijakan untuk melonggarkan syarat PSR. Dari sebelumnya 8 persyaratan dipangkas menjadi 2 persyaratan. "Kemudahan ini sangat membantu petani untuk meningkatkan target peremajaan sawit, "ujar Gulat.

Sebelumnya, BPDP-KS telah mengeluarkan regulasi Peraturan Direktur Utama BPDPKS Nomor:KEP-167/DPKS/2020 tanggal 28 Mei 2020 yang mengatur lebih lanjut kenaikan besaran dana peremajaan tersebut. Dengan keluarnya keputusan ini, maka kenaikan tersebut sudah dapat diakses oleh petani yang ingin mengikuti program peremajaan. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA