Maksi: Makanan dari Kelapa Sawit Beragam dan Sehat

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 06 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta -Mungkin banyak yang belum tahu kalau pohon sawit kaya manfaat, mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh. Anggapan bahwa minyak sawit adalah sumber penyakit, membahayakan tubuh, jelas salah.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Darmono Taniwiryono dalam DigiTalk Sawit Kota Meda-Sumut secara online, Kamis (4/6/2020).

"Sawit adalah tanaman anugerah Allah yang luar biasa, perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dan, sawit bukan hanya anugerah buat Indonesia tetapi dunia," ungkapnya.

Dalam minyak sawit merah atau Virgin Red oil (VRO), kata Darmono, mengandung betacarotin dan vitamin E dalam jumlah tinggi. Selain itu, VRO mengandung asam lemak (palmitic acid dan oleic acid) tinggi yang mirip dengan air susu ibu (ASI). "Terbukti minyak sawit mencegah stunting. Ini cocok untuk Indonesia di mana satu dari tiga bayi yang lahir menderita stunting," tuturnya.

Di tengah pandemi Covid-19, kata dia, VRO sangat berguna untuk meningkatkan kekebalan tumbuh serta perlindungan paru-paru. "Di dalam VRO mengandung asam palmitat yang juga lemak jenuh yang bagus sebagai pelindung paru-paru. Dan Vitamin E untuk menjaga daya tahan tubuh," paparnya.

Saat ini, kata Darmono, ada minuman sehat yang berbahan baku kelapa sawit. Namanya Oil Palm Phenolic Drink. "Jadi, kelapa sawit bukan hanya dibuat untuk minyak goreng saja. Sebagai bahan pembuat makanan dan minuman sehat juga bisa," tuturnya.

Selanjutnya, Darmono menjelaskan adanya persepsi bahwa minyak sawit kental kurang baik, lantaran mengandung banyak kolesterol. Padahal, susunan kimia minyak sawit kental maupun cair, tidak ada perbedaan. Selain itu, minyak sawit tidak mengandung kolesterol. "Dan perlu diingat, manusia butuh kolesterol lho<' tuturnya.

Disebutkan, pada 2015, Departemen Pertanian AS mengeluarkan kolesterol dari daftar nutrisi jahat. Di mana, obesitas lebih dipicu oleh karbohidrat atau gula. jadi bukan karena kolesterol.

"Lemak jenuh itu, tidak berbahaya malah dibutuhkan. Yang bahaya justru karbohidrat atau gula. Pada 1980 pernah ada larangan penggunaan minyak jenuh, disebutnya tropical oil. Anehnya, meski ada larangan itu, penderita diabetes di AS malah tinggi. Sehingga pada 2015, kolesterol dihilangkan dari daftar," ungkapnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA