Manifestasi Zakat Hadapi Pandemi

OD
Oleh Opini: Dr. Rida Hesti Ratnasar
Kamis 11 Juni 2020
share
 

BADAN Amil Zakat Nasional (Baznas) merupakan mitra strategis Pemerintah dalam pembangunan nasional. Di era pandemi Covid-19, Baznas mengambil peran aktif melakukan berbagai kegiatan berkesinambungan dengan tujuan utama pencegahan Covid-19. Hal ini sesuai dengan manifestasi zakat, yakni kegotongroyongan dan tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Kegotongroyongan ini mewujud dalam program-program masyarakat, khususnya bagi mereka yang terdampak langsung. Ada tiga aspek penting mewujudkan kegotongroyongan ini antara lain, pertama, membangun sinergitas antar instansi. Dalam hal pendistribusian, misalnya, Baznas membutuhkan data valid yang dikeluarkan lembaga kredibel, tepercaya dan bertanggungjawab secara undang-undang.

Bantuan berbasis data valid menjadi pondasi yang tidak terelakkan, ketepatan sasaran, merupakan amanah dalam pengelolaan dana zakat. Khusus terkait Covid-19, data kredibel adalah berasal dari gugus tugas yang telah dibentuk Pemerintah serta pihak terkait yang ditunjuk oleh otoritas.

Sebagai penerima anugerah operasional kelembagaan terbaik se-Provinsi Jawa Barat, Baznas Kota Depok menunjukkan kinerja aktif dan proporsional dalam menghadapi pandemi. Hal itu ditunjukkan dengan kerja sama Baznas dengan berbagai pemangku kepentingan. Saat ini, Kota Depok menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional sebagai transisi menuju new normal. Meski berbeda dengan masa PSBB sebelumnya, pelonggaran bisa dirasakan setidaknya hingga 2 Juli mendatang.

Longgar atau tidak, Baznas tetap bekerja bagi masyarakat sesuai dengan koridor undang-undang. Dalam bekerja di era pandemi, Baznas memperhatikan dan menindaklanjuti perkembangan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dalam menghadapi pandemi. Di Kota Depok per tanggal 4 Juni 2020, ada 572 kasus warga yang positif dengan persentase kematian 5,24 persen dan kesembuhan 53,3 persen. Data tersebut kemudian menjadi patokan Baznas Kota Depok untuk mendistribusikan bantuan berupa makanan, alat kesehatan dan SDM relawan. Layanan Aktif Baznas (LAB) dan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kota Depok menjadi bagian penting kesiagaan 24 jam.

Memperhatikan sebaran Covid-19 di Kota Depok, saat ini 31 RW dinyatakan menerapkan Pembatasan Sosial Kampung Siaga (PSKS). Data ini tentunya bisa berubah, sesuai dengan kenyataan di lapangan. Data menjadi penting untuk analisis internal lembaga bagaimana seharusnya pendistribusian dilakukan. Bantuan seperti apa yang cocok di zona merah dan bukan zona merah.

Koordinasi pun dilakukan dengan lembaga lain, diantaranya dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok. Tidak dimungkiri, jika pandemi ini berimplikasi langsung dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Social distancing menjadi kewajiban warga di era new normal akibat Covid-19. Pada masa pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), MUI telah mengeluarkan pendapat keagamaan antara lain boleh nya menggunakan dana zakat untuk digunakan mengatasi Covid-19 berikut dampak turunannya dan pengaturan ibadah di masjid. Ini menunjukkan saling melengkapi antara ulama dan umara berkaitan dengan aktivitas keagamaan di era pandemi berdasarkan Fatwa MUI Depok dan Peraturan Walikota.

Kedua, pemberdayaan masyarakat hadapi kondisi darurat. Membangun kebersamaan dan solidaritas antar elemen masyarakat menjadi hal penting. Program Baznas antara lain menghimpun dana dari muzakki dan donatur yang tergerak menunaikan zakat. Hingga April 2020, bantuan Baznas di seluruh Indonesia untuk menghadapi pandemi mencapai Rp40 miliar. Besarnya angka itu menggembirakan sekaligus menunjukkan bangkitnya solidaritas rakyat Indonesia di tengah wabah. Sudah tentu, menjadi tugas Baznas menyelenggarakan pendistribusian tepat sasaran sesuai dengan database mustahik dan kelompok rentan mustahik temporer akibat pandemi.

Selain membangkitkan muzakki, Baznas pun menggerakkan program kerelawanan di masyarakat. Hal ini sejalan dengan Peraturan Walikota Depok No. 37 Tahun 2020 tentang PSBB yang dalam salah satu konsiderannya menyebutkan sinergitas aspek kesehatan, sosial dan ekonomi. Kerelawanan yang dilakukan mencakup promosi kesehatan, kewaspadaan dini kesehatan, kampung siaga Covid-19 dan PSBB.

Baznas RI telah melakukan perekrutan relawan kesehatan dari berbagai universitas di bidang medis. Sejauh ini, universitas yang sudah melakukan kerja sama antara lain UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Binawa dan Institut STIAMI. Mereka bernaung dalam program Rumah Sehat Baznas dengan kegiatan antara lain penyemprotan disinfektan ke fasilitas publik, pengecekan suhu tubuh, pemeriksaan medis standar dan penyerahan Alat Pelindung Diri (APD) ke beberapa rumah sakit. Dalam beberapa kegiatan, para relawan ini juga melakukan imbauan keliling ke kampung-kampung dengan mobil ambulans.

Ketiga, gotong royong dalam menyampaikan informasi yang benar tentang virus Corona kepada masyarakat. Edukasi mutlak dibutuhkan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Baznas mendukung upaya Pemerintah melawan hoaks yang bertaburan di media sosial. Disinformasi, fake news, ataupun kampanye bernuansa politik tentunya memperburuk kehidupan sosial di tengah pandemi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem informasi kesehatan warga yang sesuai dengan data riil di lapangan.

Sistem informasi ini dilakukan oleh masyarakat dibantu dengan tim medis dari berbagai lembaga. Tugas mereka mulai dari pengecekan data yang sakit di lapangan, melakukan imbauan hingga menyosialisasikan nomor darurat rumah sakit atau lembaga medis rujukan. Baznas pun bersiap jika ke depannya melakukan kerja sama dengan lembaga terkait dalam menghadapi ancaman hoaks di media sosial.

Informasi juga terkait dengan kesiapan pangan masyarakat. Sosialisasi dilakukan dengan multiplatform online ataupun offline dengan poin-poin penting adalah kesiapan warga dalam menghadapi kondisi sulit, menyimpan bahan makanan dengan cukup dan data logistik secara riil.

Pemaparan di atas menunjukkan hadirnya negara dalam pengelolaan zakat menghadapi kondisi darurat. Alokasi dana zakat sudah ditentukan secara pasti di dalam syariah yakni delapan asnaf seperti yang telah disebut dalam Al Quran. Dalam perjalanannya, ulama telah mengeluarkan pendapat keagamaan menghadapi kondisi kontemporer. Ini menunjukkan ajaran agama sangat aplikatif bagi kehidupan sosial masyarakat. Zakat adalah solusi bagi kehidupan sosial masyarakat, baik dalam kondisi normal atau darurat. [*]

* Wakil Ketua IV BAZNAS Kota Depok

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA