Covid-19 Masih Tinggi

Asumsi Makro Sri Mulyani Terlalu di Awang-awang

IN
Oleh inilahcom
Senin 22 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Vokalis Komisi XIO asal Gerindra, Kamrussamad memberikan catatan kritis terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2021 yang disampaikan Menteri keuangan Sri Mulyani, beberapa waktu lalu.

Intinya, anak buah Prabowo ini, menilai, KEM-PPKF 2021 menggambarkan skenario pemulihan ekonomi model kurva "V". Artinya, pemerintah menganggap Pandemi Covid-19 ini hanya jangka pendek (setahun) dan pemulihan cepat.

Sehingga, tahun depan pwrekonomian
sudah mulai pulih. Faktanya, justru semakin banyak penderita Covid-19. Dalam hal ini, pemerintah sebaiknya tetap memikirkan atau mempertimbangkan jika pemulihan ekonomi tidak model "V" seperti yang dibuat lembaga-lembaga internasional. Mengingat, Indonesia memulai kondisi New Normal pada saat kasus positif belum turun atau melandai, sehingga kemungkinan pemulihan ekonomi tidak cepat seperti yang diprediksikan

Kata Kamrussamad, skenario model "W" (atau ada kemungkinan terjadi second wave pandemi Covid-19), maupun model "L" (jika recovery ekonomi tidak pulih secara cepat), tetap perlu dipertimbangkan pemerintah. "Meskipun kita semua tidak menghendakinya. Ini bermanfaat untuk langkah antisipasi jangka menengah mengingat skenario jaring pengaman sosial kita hanya 3 bulan, 6 bulan, dan setahun," papar Kamrussamad di Jaakrta, Senin (22/6/2020).

Kamrussamad mengatakan, variatifnya rentang perbedaan proyeksi antar lembaga internasional menggambarkan ketidakpastian ekonomi yang tinggi di sisa 2020 dan tahun 2021. Alhasil, pemerintah perlu mengantisipasi jika situasi gejolak ekonomi global kembali terjadi, terutama jelang akhir tahun (dinamika politik AS) dan risiko gelombang kedua pandemi.

Selain ini, lanjut Kamrussamad, hampir semua mitra dagang utama Indonesia di negara-negara maju, hanya China yang diperkirakan pertumbuhan ekonominya berada di jalur positif di triwulan II 2020. "Apa yang harus dilakukan pemerintah? Agar memberikan manfaat terhadap kenaikan ekspor produk Indonesia," paparnya.

"Harus ada upaya yang dilakukan pemerintah untuk mendukung ekspor ke China, sehingga saat mereka mulai pulih, permintaan ekspor China ke Indonesia juga naik," imbuh pengagas KahmiPreneur ini.

Dari beberapa risiko yang membayangi outlook ekonomi 2020 dan Proyeksi 2021, lanjutnya, jangan menafikan dua faktor global ini, yaitu geopolitik AS-China. Hanya saja, masalah tersebut sulit diintervensi. Sementara faktor second Wave Covid-19 sangat berkaitan dengan kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menangani wabah.

"Hingga saat ini, belum terlihat adanya skenario pemerintah jika gelombang kedua datang. Hal ini yang mengherankan dari tim ekonomi yang terkesan percaya diri dengan satu skenario saja," paparnya

Terkait stimulus fiskal sebesar 4,2% dari Produk Domestik Bruto, dinilainya, sangat penting. Namun, kecepatan implementasi jauh lebih penting karena akan menentukan tingkat efektifitas stimulus fiskal tadi. Rendahnya penyerapan anggaran, sangat memengaruhi daya beli serta berdampak pada sektor riil. "Perlunya keberpihakan terhadap peningkatan daya saing dalam negeri," ungkapnya.

Dirinya juga mempertanyakan, berapa persen penyerapan stimulus fiskal hingga saat ini? "Apa upaya yang sudah dilakukan untuk mempercepat stimulus agar sampai ke masyarakat dan dunia usaha, kami nilai hasilnya belum nampak," tegas Kamrussamad.

Dikatakan, lima lembaga Internasional tidak ada yang memproyeksikan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 1% pada tahun ini. Paling banter proyeksinya hanya 0,5%.

Fenomena ini membuat banyak kalangan meragukan berbagai asumsi atau proyeksi ekonomi pemerintah yang berani mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 1% pada 2020. "Kami mendesak tim ekonomi Pemerintah untuk jujur agar publik bisa percaya terhadap arah kebijakan sudah tepat," timpalnya.

Dia menyarankan, tim ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang katanya hebat-hebat, berani bersikap jujur. Serta antisipasif terhadap penangangan pandemi Covid-19. "Semestinya pemerintah juga punya skenario ketika pertumbuhan ekonomi tahun ini, menjadi minus 3,9%. Ini penting untuk menyusun target pertumbuhan ekonomi 2021, bisa lebih realistis," pungkasnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA