Hadapi Covid-19, Perbankan & Pebisnis Harus Kompak

IN
Oleh inilahcom
Senin 22 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pandemi Covid-19, melanda seluruh dunia terbukti membawa dampak besar terhadap dunia usaha seiring kebijakan lockdown yang diambil sejumlah negara. Dalam hal ini, perbankan dan pelaku usaha perlu kompak dan sinergi.

Paling tidak, mrntai pasokan alias supply chain di berbagai sektor bisnis, menjadi tersendat. Terutama yang masih mengandalkan suplai bahan baku dari impor. Celakanya lagi, dampak lanjutan (dominos effect) dari kondisi tersebut, menjalar ke sektor perbankan.

Banyak pengusaha dari berbagai sektor industri kesulitan memenuhi kewajiban cicilan kredit lantaran bisnisnya sedang sepi. Alhasil, mereka terpaksa merumahkan karyawan demi mengurangi beban keuangan.

"Dalam pantauan kami, secara NPL (Non Performing Loan/rasio kredit bermasalah) mulai ada sedikit kenaikan. Dari 2,77 persen pada bulan sebelumnya, menjadi 2,89 persen pada saat ini. Namun dari segi recovery rate (kemampuan pemulihan), masih sangat aman, yaitu 212,05 persen," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana, dalam seminar bertema Strategi Perbankan Bangkitkan Dunia Usaha di Tengah Pandemi COVID19 yang diselenggarakan secara virtual oleh Warta Ekonomi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan angka recovery rate perbankan nasional yang demikian sehat, Heru mengajak semua pihak untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Meski juga kewaspadaan memang tetap harus dijaga agar tidak sampai lengah ketika terjadi sesuatu yang perlu penanganan lebih lanjut.

"Dalam hal ini pemerintah melalui OJK telah menyiapkan berbagai langkah yang bias ditempuh sesuai dengan perkembangan yang nantinya terjadi di pasar. Paket relaksasi tahap pertama telah dijalankan lewat POK Nomor 11. Bila memang diperlukan, paket-paket (relaksasi) lanjutan juga sudah siap (dijalankan)," tutur Heru.

Menurut Heru, OJK telah menyediakan berbagai opsi restrukturisasi kredit yang bisa dijalankan oleh perbankan terhadap nasabah kreditnya yang sedang bermasalah. Beberapa opsi tersebut diantaranya pengembalian posisi bunga ke pokok, penyesuaian jangka waktu kredit, penambahan fasilitas hingga konversi nilai kredit ke penyertaan modal sementara.

"Semua opsi itu, kami serahkan sepenuhnya ke masing-masing banknya. Ke masing-masing lembaga pembiayaannya, agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik nasabah kreditnya masing-masing," papar Heru.

Sementara, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja menyatakan, persoalan likuiditas menjadi hal krusial yang harus benar-benar dijaga, guna menyelamatkan industri perbankan serta perekonomian nasional.

Dalam kesempatan ini, Jahja juga mengajak seluruh bank yang ada di Indonesia untuk lebih mengutamakan likuiditas ketimbang profitabilitas perusahaan, untuk saat ini. "Kita bisa banyak belajar dari krisis yang terjadi saat 1998 dulu, di mana perekonomian babak-belur gara-gara likuiditas yang tidak tersedia di pasar. Saya ingat betul, sekitar setahun sebelumnya, hampir kita semua sangat yakin bahwa gelombang krisis tidak akan sampai ke Indonesia karena nilai tukar kita saat itu sangat kuat. Dollar di kisaran Rp2.000an. Tapi ketika melonjak drastis hingga Rp15.000an per dollar, otomatis likuiditas kita terkuras," ujar Jahja.

Dikisahkan bankir senior ini, krisis 1998 masuk ke Indonesia, diawali dengan tutupnya 16 bank-bank kecil. Kala itu, belum ada sistem penjaminan yang saat ini diperankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sontak saja, penutupan bank sebanyak itu membuat masyarakat panik. Terjadi penarikan uang secara besar-besaran alias rush, menggulung likuiditas perbankan.

"Karena itu, dengan pengalaman yang ada, kita harus satukan semangat untuk menjaga likuiditas. Soal profitabilitas nanti dulu saja. Kita selamatkan dulu angsanya, untuk nantinya ketika sudah aman, telurnya bisa kita bagi dan nikmati bersama-sama," tandas Jahja.

Ajakan Jahja agar perbankan lebih mengedepankan likuiditas dan mengesampingkan profitabilitas, disambut baik kalangan pengusaha. Dengan adanya komitmen dari perbankan tersebut, para pengusaha berharap memiliki ruang lebih untuk berimprovisasi dan berinovasi untuk dapat bertahan di tengah tekanan pandemi COVID19.

Termasuk juga opsi memanfaatkan fasilitas restrukturisasi kredit bagi para pengusaha yang posisi cashflownya tengah bermasalah seiring dengan lesunya aktivitas bisnis yang digelutinya. "Terima kasih Pak Jahja. Mendengar komitmen Bapak bahwa yang utama saat ini adalah saling bahu-membahu menjaga likuiditas, kami dari dunia sangat senang dan sumringah. Artinya kita sudah sepaham bahwa jangan dulu mengedepankan profitabilitas masing-masing. Mari kita saling berkolaborasi agar bisa menghadapi (kondisi pandemi) ini bersama-sama," ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaya Kamdani, dalam kesempatan yang sama.

Komitmen untuk saling membantu tersebut, menurut Shinta, kini juga tengah dipegang teguh oleh APINDO, terutama untuk mendorong kalangan pengusaha kecil dan menengah untuk dapat bertahan di tengah keterbatasan modal dan kekuatan yang dimilikinya.

Misalnya saja, ketersediaan pasokan bahan baku, kondisi pasar yang sedang lesu, hingga penguasaan teknologi yang masih sangat terbatas di kalangan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Mungkin ajakan untuk going digital itu mudah bagi para pengusaha besar, tapi bagi mereka yang (usahanya) kecil-kecil ini, jangan dianggap itu hal yang mudah. Jadi jangan juga asal memberi tips atau seruan tanpa melihat siapa yang sedang kita hadapi," kata Shinta.

"Selain stimulus yang sudah disediakan, untuk UMKM kita juga harus lihat lebih banyak hal lagi. Soal model bisnisnya, apakah masih valid atau sudah perlu move on. Soal digitalisasi mereka bagaimana, soal asset yang mereka punya dan ready to use apa saja. Itu semua harus dicek, dan kami (APINDO) sangat concern tentang hal ini. Kami tegas berkomitmen membantu mereka (UMKM) ini, karena kalua mereka bisa survive maka pasar juga akan kembali bagus dan kita semua bisa terselamatkan dari sana," imbuh Shinta. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA