Lahan Tidur Rote Ndao Ditanami Bawang Merah

IN
Oleh inilahcom
Kamis 25 Juni 2020
share
Kelompok Wanita Tani (KWT) Paohu menanam bawang merah di tanah tidur seluas 20 hektare - (Foto: Inilahcom/Dok)

INILAHCOM, Lobalain - Kebutuhan bawang merah di Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diatasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Paohu dengan menanam bawang merah di seluas 20 hektare.
Tujuannya, memanfaatkan lahan tidur dan memenuhi kebutuhan bawang merah di Kabupaten Rote Ndao, khususnya kebutuhan anggota KWT Paohu dan masyarakat sekitar.

Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rote Tengah mendampingi 15 anggota KWT Paohu melakukan budidaya bawang merah. Penanaman dimulai bulan ini setelah budidaya di lahan seluas 0,5 hektare didukung irigasi tetes untuk contoh bagi petani lainnya, yang berminat memanfaatkan lahan tidur. Lokasi budidaya di Desa Nggodimeda, Kecamatan Rote Tengah.

"Penanaman bawang merah dimulai bulan ini, diharapkan akhir Agustus hingga awal September 2020 sudah panen bawang merah," kata Lorens Loak, Koordinator BPP Rote Tengah di Lobalain, ibukota Rote Ndao, belum lama ini.

Menurutnya, KWT Paohu selain menyediakan lahan, juga tenaga kerja; pemerintah desa mendukung anggaran dari Dana Desa; dinas pertanian mengatur denah dan instalasi perpipaan; penyuluh melakukan bimbingan teknis dan pendampingan teknologi budidaya bawang merah.

Penyuluh Pusat, Yulia Tri di Kementerian Pertanian selaku pendamping kegiatan penyuluhan pertanian NTT mengatakan, langkah BPP Rote Tengah dan KWT Paohu sejalan instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

"Insan pertanian di seluruh Indonesia harus tetap bekerja dan produktif di tengah pandemi Covid-19, untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menangkal krisis pangan," kata Yulia Tri mengutip Mentan Syahrul.

Instruksi Mentan didukung sosialisasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi setiap kali video conference melalui Agriculture War Room (AWR) memotivasi para petani dan penyuluh untuk manfaatkan lahan tidur, termasuk pekarangan rumah untuk bercocok tanam melalui Family Farming, Pekarangan Pangan Lestari [P2L].

"Kalau lahan terbatas, lakukan budidaya dengan hidroponik. Manfaatkan limbah rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk organik. Hemat biaya, tanah subur dan mendukung pelestarian lingkungan sekitar," kata Dedi.

Lorens Laok menambahkan pihaknya merekomendasikan
sistem pengembunan dengan irigasi tetes untuk budidaya bawang merah di lahan kering. Kiat mengatasi kendala kesuburan tanah di Pulau Rote, dipasang pipa pralon dan pipa karet berbahan sintetis dipasang membentang lalu dilubangi sebagai pori-pori untuk mengeluarkan air.

Iirigasi tetes mendukung KWT menanam dan panen bawang merah berkelanjutan asalkan pengembunan dilakukan secara terjadwal untuk menyiram tanaman, dengan memanfaatkan mesin penyedot air (robin).

"Sistem irigasi tetes menghemat air di musim kemarau, khususnya mengatasi debit air sumur sekaligus hemat biaya tenaga kerja untuk menyiram tanaman bawang," kata Lorens Loak melalui pernyataan tertulis yang dihimpun Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan BPPSDM Kementan).

Cara kerjanya adalah menyimpan cadangan air di torn fiber, katanya, kemudian penyiraman didukung mesin penghisap air untuk diairi ke tanaman, memanfaatkan tekanan gaya gravitasi melalui lubang selang sesuai kebutuhan tanaman. "Bisa juga diatur kebutuhan air dari masing-masing kran yang dibagi pada tiap bedengan." [yha]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA