Tanggapan Soal Jokowi Ingin Reshuffle Kabinet

IN
Oleh inilahcom
Senin 29 Juni 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pada rapat kerja baru-baru ini presiden Joko Widodo menyatakan jengkel kepada para pembantunya, karena dipandang tidak begitu serius, kurang greget dan biasa-biasa saja dalam bekerja menangani persoalan yang semakin hari semakin mendera bangsa Indonesia.

Khususnya dalam menangani persoalan-persoalan sebagai akibat pandemi covid-19 yang sedang berlangsung sekarang ini. Bahkan presiden Jokowi mengeluarkan ancaman akan mereshuffle para menteri yang dipandang tidak bisa bekerja cepat, lelet, biasa-biasa saja, tidak punya keperihatinan dan minim integritas.


Cendekiawan Muda, Bambang Saputra menilai, rencana presiden Joko Widodo ingin melakukan reshuffle kabinet kalau cuma sekadar rolling jabatan dan orangnya masih itu-itu saja ya percuma.


"Bukan memberi efek jera bagi menteri yang tidak memiliki kinerja dan integritas yang baik, tetapi tindakan itu malah terkesan sandiwara yang mencederai hati rakyat Indonesia." Kata Bambang yang juga pengamat politik dan hukum, Senin (29/6/2020).


Menurutnya, meminjam istilah filsuf Yunani, Aristoteles tidak lebih hanya sekedar katarsis, yakni wacana reshuffle kabinet yang hanya cuma sekadar gertak sambal. Sehingga akhirnya wacana reshuffle kabinet yang digaungkan presiden Jokowi itu akan berujung pada cemoohan publik kepada pemerintah. Artinya pemerintah mempermalukan dirinya sendiri, karena bagi publik, orang awam sekalipun dapat memprediksi bahwa apa yang diwacanakan presiden itu sekedar sandiwara politik.


Dalam mengangkat seseorang menjadi pembantu, Presiden Jokowi idealnya harus benar-benar mempertimbangkan profesionalitas, kejujuran, kebersihan, dan integritas orangnya. Dan bukan memilih menteri atau pembantu berdasarkan bisikan-bisikan "orang kuat" atau titipan-titipan partai politik tertentu.

"Pengalaman memilih dan mengangkat para pembatu beberapa bulan lalu dan terbukti tidak mampu bekerja maksimal dan bisanya cuma bikin jengkel, sebaiknya dijadikan pengalaman berharga bagi presiden Jokowi," terangnya.


Memilih dari kalangan politisi boleh, dari unsur relawan boleh, dari akademisi dan professional murni juga boleh sambung Bambang, tapi syaratnya harus yang mampu bekerja keras, cepat, bersih, dan berinteritas tinggi ingin benar-benar memperbaiki problematika bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.


"Jangan sampai rakyat hilang kepercayaan terhadap pemerintah, dalam hal ini maka independensi presiden dipertaruhkan dan tidak perlu takut-takut atau ragu-ragu dalam memilih pembantunya secara objektif yang kredible, akuntable, dan professional," pungkasnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA